Gus Kikin Silaturahmi ke Abuya Muhtadi Cidahu, KH Hafiz Gunawan: Momentum Menyatukan Ulama dan Nahdliyin

PANDEGLANG, BANTENMataElang24.com, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin melakukan silaturahmi kepada ulama sepuh Banten, Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyati, di kediamannya di kawasan Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Cidahu, Pandeglang, Banten, Minggu pagi, 13 September 2026.

 

Silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Pertemuan Gus Kikin dengan Abuya Muhtadi juga menjadi perhatian warga Nahdliyin, khususnya setelah berlangsungnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

 

Dalam Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

 

Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan suasana pertemuan yang berlangsung sederhana dan penuh penghormatan. Gus Kikin tampak berbincang bersama Abuya Muhtadi, sementara sejumlah kiai dan tokoh NU turut mendampingi.

 

Silaturahmi Ulama, Bukan Sekadar Seremonial

 

Untuk mengetahui makna pertemuan tersebut, MataElang24.com meminta pandangan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Banten, KH Hafiz Gunawan, S.Pd.I., melalui wawancara WhatsApp.

 

MataElang24.com:

Bagaimana Abi melihat silaturahmi Gus Kikin selaku Ketua Umum PBNU kepada Abuya Muhtadi Cidahu pagi ini?

 

KH Hafiz Gunawan:

“Silaturahmi antara pimpinan PBNU dengan ulama sepuh seperti Abuya Muhtadi merupakan sesuatu yang sangat baik. Ini bagian dari tradisi NU, yaitu menjaga hubungan antara ulama, pimpinan jam’iyah dan para kiai sepuh.”

 

Menurutnya, tradisi sowan kepada ulama sepuh memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar kunjungan kelembagaan.

 

“Dalam tradisi pesantren dan NU, sowan kepada kiai bukan hanya untuk bertemu secara fisik, tetapi juga untuk meminta doa, nasihat dan keberkahan. Apalagi setelah Muktamar, tentu hubungan antara kepengurusan baru dengan para ulama sepuh harus semakin diperkuat,” ujarnya.

 

Menyatukan Kembali Kekuatan Nahdliyin

 

KH Hafiz juga menilai momentum pasca-Muktamar ke-35 NU perlu diisi dengan semangat persatuan.

 

“NU ini besar karena ulama dan jamaahnya. Setelah Muktamar, yang paling penting adalah bagaimana seluruh elemen kembali bersama-sama membangun NU, menjaga ukhuwah, memperkuat jam’iyah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat,” katanya.

 

Ia menambahkan, perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun setelah keputusan organisasi ditetapkan, seluruh Nahdliyin perlu kembali merapatkan barisan.

 

“Yang terpenting sekarang bukan lagi siapa mendukung siapa. Yang terpenting adalah bagaimana NU ke depan bisa memberikan kemaslahatan kepada umat dan bangsa,” lanjutnya.

 

Abuya Muhtadi dan Pesan untuk NU

 

Abuya Muhtadi sendiri merupakan salah satu ulama sepuh Banten yang memiliki posisi penting di tengah masyarakat dan kalangan Nahdliyin.

 

Dalam pemberitaan sebelumnya, Abuya Muhtadi juga pernah menyampaikan pesan agar warga NU menjaga ketenteraman menjelang Muktamar dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

 

Karena itu, pertemuan Gus Kikin dengan Abuya Muhtadi dinilai memiliki makna tersendiri.

 

MataElang24.com:

Apa pesan penting yang dapat diambil dari pertemuan ini untuk warga NU Banten?

 

KH Hafiz Gunawan:

“Pesannya tentu mari kita jaga persatuan. NU harus tetap menjadi rumah besar bagi seluruh Nahdliyin. Para kiai harus menjadi tempat kita meminta nasihat, sementara struktur NU harus bekerja menjalankan amanah organisasi dengan sebaik-baiknya.”

 

“Jangan sampai perbedaan setelah Muktamar membuat kita terpecah. Justru setelah Muktamar harus semakin guyub, semakin kompak dan semakin kuat dalam berkhidmat kepada umat,” tambahnya.

 

PBNU Diharapkan Semakin Dekat dengan Ulama dan Pesantren

 

KH Hafiz berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat memperkuat hubungan PBNU dengan pesantren dan para ulama di berbagai daerah.

 

Menurutnya, pesantren merupakan salah satu akar utama kekuatan NU.

 

“NU tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Karena itu, komunikasi antara PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, ranting, pesantren dan para kiai harus terus dijaga. Kalau semuanya bersatu, insyaallah NU akan semakin kuat,” katanya.

 

Ia juga berharap kepengurusan NU di semua tingkatan mampu menerjemahkan hasil Muktamar ke dalam program yang benar-benar dirasakan masyarakat.

 

“Ukuran keberhasilan NU bukan hanya banyaknya kegiatan, tetapi seberapa besar manfaatnya dirasakan umat. Pendidikan, pesantren, ekonomi jamaah, kesehatan, sosial, kaderisasi dan dakwah harus terus diperkuat,” ujarnya.

 

Dari Cidahu untuk Kebangkitan NU

 

Silaturahmi Gus Kikin kepada Abuya Muhtadi di Cidahu menjadi simbol penting bahwa perjalanan NU pasca-Muktamar tidak boleh berhenti pada dinamika pemilihan kepemimpinan.

 

Ada pekerjaan besar yang menanti: merawat persatuan, menjaga tradisi ulama, memperkuat kaderisasi dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

 

Bagi Nahdliyin Banten, pertemuan tersebut juga menjadi momentum untuk kembali meneguhkan bahwa ulama, pesantren dan jam’iyah NU harus berjalan dalam satu irama.

 

Sebagaimana semangat yang terus digaungkan dalam tradisi NU, perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan. Justru dari perbedaan itulah lahir musyawarah, sementara persatuan menjadi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.

 

Silaturahmi Gus Kikin dan Abuya Muhtadi di Cidahu pagi ini akhirnya bukan sekadar pertemuan dua tokoh. Ia menjadi pesan bahwa setelah Muktamar selesai, saatnya seluruh Nahdliyin kembali merapatkan barisan—bersama ulama, bersama pesantren, dan bersama umat.

 

Reporter: Ahmad Mujib

MataElang24.com — Tajam dan Berani

 

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *