SekJend Majelis Ulama Nusantara (MUN) Kiyai Alwiyan Qasid Sam’un: Keikhlasan dan Ketaatan pada Perintah Allah Sebagai Landasan Kebajikan

JakartaMataElang24.com, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Nusantara (MUN), Kiyai Alwiyan Qasid Sam’un, mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal kebajikan yang dilakukan oleh umat Islam, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dalam pernyataannya, Kiyai Alwiyan menekankan bahwa melakukan kebaikan secara terbuka dengan niat ikhlas adalah hal yang lebih baik dibandingkan dengan berbuat baik dengan niat untuk mendapatkan pujian atau tanpa keikhlasan.

 

“Jika bisa tetap ikhlas dalam melakukan kebajikan secara terang-terangan, itu lebih baik. Semoga itu bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Berbuat baik bukan untuk dipuji atau mendapatkan balasan, tetapi karena kecintaan kita kepada Allah. Itulah esensi dari ikhlas,” ujar Kiyai Alwiyan dalam sebuah kesempatan.

 

Kiyai Alwiyan juga menegaskan bahwa dalam Islam, berbuat baik kepada sesama manusia adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, yang tidak tergantung pada apakah orang yang kita bantu berbuat baik kepada kita atau tidak. “Berbuat baik kepada orang lain bukan karena mereka berbuat baik kepada kita, melainkan karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam kehidupan ini, baik atau buruk, memiliki landasan hukum yang jelas. “Adanya dosa atau pahala, salah atau benar, itu karena ada atau tiadanya hukum yang jelas dari Allah,” ujarnya.

 

Mengambil contoh dari kisah Iblis yang menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, Kiyai Alwiyan mengingatkan agar umat Islam berhati-hati dalam menolak perintah Allah tanpa dalil yang kuat. “Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam dengan alasan tanpa dalil, yang akhirnya mengantarkannya pada kekafiran. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak seenaknya menolak perintah Allah tanpa dasar yang benar dan shahih,” tegasnya.

 

Kiyai Alwiyan juga menegaskan bahwa perbuatan yang diperintahkan oleh Allah, meskipun sulit atau tidak dipahami, tetaplah merupakan bentuk ketaatan yang mendatangkan pahala, sebagaimana malaikat yang taat pada perintah Allah untuk bersujud kepada Adam AS. “Jika ada perintah-Nya, maka itu adalah ketaatan yang mendatangkan pahala. Sebaliknya, jika ada larangannya, maka itu adalah dosa. Singkatnya, dosa atau pahala itu ada karena adanya ketetapan hukum-Nya,” ungkapnya.

 

Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan umat Islam untuk selalu memahami hukum-hukum Allah dengan benar, karena itu adalah konsekuensi dari deklarasi diri sebagai umat yang bertuhan. “Memahami hukum-hukum Allah adalah bagian dari konsekuensi kita sebagai umat yang mengakui dan taat kepada-Nya,” pungkasnya.

 

Sumber : Sekjend DPP MUN Kiyai Alwiyan Qasid Sam’un

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *