DUNIA — MataElang24.con, Pagi itu langit tampak lebih kelam dari biasanya. Awan menggulung seperti lautan murka. Angin tak lagi berhembus lembut, melainkan memekakkan telinga. Tiba-tiba terdengar suara dahsyat dari langit, seolah panggilan terakhir yang memecah keheningan dunia.
Semua mata mendongak. Bangunan berguncang, gunung-gunung berhamburan, dan lautan meluap menelan daratan. Tak ada lagi yang bisa berdiri kokoh, karena hari itu, KIAMAT TELAH DATANG.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan ribuan tahun silam dalam sabdanya:
> “Tidak akan terjadi kiamat hingga matahari terbit dari barat. Apabila ia telah terbit dari barat dan orang-orang melihatnya, mereka semua beriman. Namun, itu adalah saat yang tidak berguna lagi iman seseorang…”
(HR. Bukhari no. 6506, Muslim no. 158, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Kejadian demi kejadian berlangsung seperti potongan mimpi buruk yang tak berujung. Langit terbelah. Bumi memuntahkan isinya. Tak ada raja, presiden, atau orang miskin. Semua sama—tergeletak tak berdaya, menanti keputusan Rabb semesta alam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> “Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan meluap, dan apabila kuburan dibongkar—maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan yang dilalaikannya.”
(QS. Al-Infithar: 1–5)
Semua yang dahulu mengingkari—berteriak, menjerit, namun sia-sia. Adzan terakhir tak lagi terdengar. Masjid runtuh. Teknologi lumpuh. Dunia telah selesai menulis sejarahnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
> “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang yang paling jahat dari umat manusia. Mereka tidak mengenal Allah, tidak pula menyebut nama-Nya.”
(HR. Muslim no. 148, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Mereka yang selama ini hidup dalam cahaya keimanan, yang bersujud di malam hari saat manusia tertidur lelap, kini bersinar dalam cahaya amal mereka, tak gentar menghadapi kedahsyatan kiamat, karena mereka tahu: ini awal kehidupan yang sesungguhnya.
> “Barang siapa takut kepada (Tuhannya), niscaya dia akan mempersiapkan bekal.”
(QS. Al-Muzzammil: 17)
Kini waktu telah berakhir. Tak ada lagi masa depan, hanya pengadilan agung. Hari ketika lidah tak mampu berbohong dan tubuh menjadi saksi.
Apakah kita siap untuk hari itu? Atau kita masih menunda taubat, seolah waktu milik kita?
Oleh: Redaksi MataElang24.com
(AM-02)












