Sosial  

Gus Irfan Wesi: “Jangan Tutupi Kebenaran dengan Romantisme Figur dan Narasi!”

JakartaMataElang24.com, Gus Irfan Wesi (GIW) kembali menyampaikan kritik tajam terhadap kalangan yang disebutnya “Kabib” dan para pengikutnya (Mukibin) yang dinilai sering menggunakan narasi sejarah secara parsial tanpa memahami metodologi ilmiah dalam menilai kebenaran suatu ajaran.

Dalam pernyataannya yang berjudul “Nonjok Logika Para Kabib & Cindel/Mukibinnya”, GIW menegaskan bahwa orang cerdas mencari kebenaran melalui metodologi — yakni dengan menelusuri latar belakang, data, dan fakta. Sebaliknya, katanya, orang bodoh hanya berkutat pada narasi perjalanan tanpa menyentuh substansi ilmiah.

“Sebagai contoh,” ujar GIW, “Nabi Musa pernah diasuh Fir’aun, Nabi Ibrahim dibesarkan oleh ayah angkat pembuat berhala, Nabi Muhammad pernah diselamati Abu Lahab, dan KH. Hasyim Asy’ari mungkin pernah berjumpa bahkan belajar dari sejumlah tokoh. Namun apakah itu berarti mereka semua benar dalam akidahnya?”

GIW menilai, kesalahan logika sebagian kelompok muncul ketika mereka menyimpulkan bahwa perjumpaan atau hubungan antara tokoh besar dan pihak tertentu berarti mengakui kebenaran ajaran pihak tersebut. “Padahal sejarah justru menunjukkan sebaliknya,” lanjutnya. “Nabi Musa menentang Fir’aun, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala ayah angkatnya, Nabi Muhammad mengecam Abu Lahab, dan KH. Hasyim Asy’ari tegas memfatwakan kafir bagi orang yang mengaku bisa mi‘raj seperti Nabi.”

Menurut GIW, klaim sebagian kelompok yang menjadikan perjumpaan KH. Hasyim Asy’ari dengan beberapa “Kabib” sebagai pembenaran terhadap ajaran mereka adalah bentuk manipulasi sejarah dan kebodohan metodologis. Ia menegaskan, KH. Hasyim Asy’ari memiliki banyak guru dan karya ilmiah, dan fatwa-fatwanya justru bertentangan dengan keyakinan beberapa tokoh yang diklaim sebagai panutan oleh para Kabib dan Mukibin.

“Sekarang sudah jelas bahwa sebagian ajaran dan nasab Baklawi bermasalah bahkan lebih sesat dari LIA Eden,” tulis GIW dengan nada keras. “Namun para Kabib dan Mukibin tetap tidak mampu menjawab secara ilmiah, hanya berputar-putar dalam narasi emosional.”

GIW menutup pernyataannya dengan pesan agar umat tidak terjebak dalam romantisme figur dan sejarah, tetapi kembali kepada metodologi ilmiah dan dasar aqidah yang benar sebagaimana diajarkan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Redaksi MataElang24.com
(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *