Sosial  

Peran Ulama dan Santri di Era Perbedaan: Dialog Hangat Ahmad Mujib dan Kiyai Alwiyan Qasid Syam’un

TangerangMataElang24.com, Dalam sebuah sesi live talk inspiratif di TikTok, Host Ahmad Mujib dari Kabupaten Tangerang menghadirkan narasumber karismatik, Kiyai Alwiyan Qasid Syam’un asal Cilegon, Banten. Percakapan yang berlangsung santai namun sarat makna ini mengangkat tema besar tentang peran ulama dan santri di tengah perbedaan bangsa dan tantangan zaman.

Ulama dan Tantangan Perbedaan

Menjawab pertanyaan pertama tentang peran ulama di tengah perbedaan suku, agama, dan pandangan politik, serta munculnya fenomena “polemik nasab”, Kiyai Alwiyan memberikan pandangan yang mendalam dan menyejukkan.

“Pada intinya, dalam menyikapi semua perbedaan itu, kita hanya perlu mendalami sisi epistemologi dan ontologi kehidupan, bahkan lebih dalam lagi pada epistemologi Irfani,” tutur Kiyai Alwiyan.

“ Terkait polemik nasab, sebaiknya dikembalikan kepada kidahnya, yang menuduh harus bisa membuktikan kebenaran tuduhannya secara ilmiah. Sama dengan yang mengaku-ngaku pun harus bisa juga membuktikan kebenaran pengakuannya secara ilmiah. Jika tidak bisa membuktikannya secara benar, yaaa tekor,” lanjutnya dengan tenang.

Tiga Kompetensi Utama untuk Santri dan Pemuda

Pertanyaan kedua yang dilontarkan Ahmad Mujib menyentuh arah pembinaan santri dan generasi muda Indonesia — “Harus ikut siapa?”

Kiyai Alwiyan menjelaskan bahwa generasi muda harus memiliki tiga kompetensi utama agar dapat berperan dalam membangun bangsa dan negara:

“Pertama, kompetensi agama, apapun agamanya, perbanyak silaturahmi dan perdalam ilmu agama dengan benar menurut kepercayaan masing-masing. Ini menjadi landasan moral dalam berbangsa dan bernegara,” jelas beliau.

“Kedua, kompetensi sosial, moral, dan kepemimpinan (leadership). Dan yang ketiga, kompetensi sains dan teknologi. Jika tiga hal ini dikuasai dan diterapkan di dunia pendidikan, insya Allah cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 bisa terwujud,” tegasnya.

Hubbul Wathan Minal Iman: Antara Ulama, Penguasa, dan Umat

Menanggapi pertanyaan terakhir mengenai relevansi prinsip “Hubbul Wathan Minal Iman” (Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman) di tengah kondisi penguasa zalim atau ulama yang menyimpang, Kiyai Alwiyan menjawab dengan penuh kehati-hatian dan kedalaman ilmu.

“Periksa dulu, siapa yang mewajibkan ucapan itu. Kalau memang diwajibkan, tentu ada dasar yang kuat,” ujarnya.

“Namun terhadap penguasa yang zalim atau ulama yang su’, cukup kita menolak tanpa berlebihan. Tidak perlu memberontak atau menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Karena mencari maslahat dengan cara yang menimbulkan kerusakan baru adalah kekeliruan besar dalam bersyariat — bahkan bisa merusak aqidah,” pungkas Kiyai Alwiyan menutup sesi live tersebut.

Acara live tersebut mendapat banyak apresiasi dari warganet. Banyak penonton menilai dialog itu sebagai perbincangan cerdas dan menyejukkan, yang mampu menjembatani pemahaman antara ulama, santri, dan masyarakat umum di tengah arus perbedaan zaman modern.

Redaksi MataElang24.com
(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *