Ketua MWCNU Kemiri: Ketegangan di PBNU Bukan Soal Pribadi, Tapi Arah Jam’iyyah Harus Diluruskan

Kemiri, Kabupaten TangerangMataElang24.com, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kemiri, Ustadz Ahmad Mujib, menyoroti dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang belakangan ramai diperbincangkan publik, khususnya terkait relasi antara Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Ustadz Ahmad Mujib menegaskan bahwa isu yang berkembang tidak dapat disederhanakan sebagai konflik personal. Menurutnya, persoalan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perbedaan arah dan tata kelola jam’iyyah NU.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka antar tokoh. Ini soal bagaimana NU dijalankan sesuai khittah, adab struktural, dan marwah ulama,” ujar Ahmad Mujib, Minggu, (14/12/25).

Perbedaan Tafsir Peran Strategis

Berdasarkan penelusuran dan komunikasi dengan sejumlah pengurus serta kiai di tingkat bawah, Ahmad Mujib menilai terdapat perbedaan tafsir terhadap peran Rais ‘Aam dan Ketua Umum.

Rais ‘Aam, secara tradisi memegang otoritas keagamaan tertinggi, sementara Ketua Umum mengelola organisasi dan kebijakan administratif.

“Yang menjadi kegelisahan adalah ketika kebijakan strategis berjalan cepat tanpa pendalaman musyawarah keulamaan yang memadai. Ini yang dirasakan sebagian kiai sebagai pergeseran tradisi,” jelasnya.

NU Global dan Kegelisahan Pesantren

Ahmad Mujib juga menyinggung agenda NU di panggung global yang digencarkan PBNU. Menurutnya, langkah tersebut sah dan visioner, namun perlu diimbangi dengan kehati-hatian fiqhiyah dan komunikasi intensif kepada basis pesantren.

“Pesantren adalah jantung NU. Ketika langkah global tidak dijelaskan dengan bahasa pesantren, yang muncul adalah kegelisahan. Di sinilah peran Rais ‘Aam menjadi sangat penting,” katanya.

Minimnya Musyawarah Jadi Sorotan

Dalam investigasi internal yang ia lakukan, Ahmad Mujib menemukan bahwa beberapa keputusan PBNU dinilai kurang melalui jalur musyawarah yang utuh dengan jajaran Syuriyah. Hal ini menimbulkan kesan adanya dominasi satu poros kepemimpinan.

“NU ini dibesarkan oleh adab. Kalau adab struktural terganggu, maka yang terluka bukan orangnya, tapi jam’iyyah-nya, termasuk saya ini” tegasnya.

Bukan Konflik, Tapi Alarm Organisasi

Meski demikian, Ahmad Mujib menolak narasi konflik terbuka. Ia menyebut dinamika ini sebagai alarm organisasi agar NU kembali meneguhkan jati dirinya.

“KH. Miftachul Akhyar adalah simbol ketenangan ulama, Gus Yahya adalah simbol gerak organisasi. Keduanya harus saling menguatkan, bukan dipertentangkan,” ujarnya.

 

Seruan Islah dan Penguatan Musyawarah

Di akhir pernyataannya, Ketua MWCNU Kemiri itu menyerukan islah internal NU dengan mengedepankan musyawarah ulama, menghormati posisi Rais ‘Aam, serta memastikan setiap langkah strategis PBNU berpijak pada khittah dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

“NU akan tetap besar jika ulama dihormati, struktur dijaga, dan keputusan lahir dari musyawarah, bukan dari kecepatan semata,” pungkas Ahmad Mujib.

Berita ini disusun berdasarkan penelusuran, pernyataan narasumber, serta dinamika internal NU di berbagai tingkatan, dengan menjunjung tinggi asas keberimbangan dan tabayyun.

Redaksi MataElang24.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *