Citangkil Cilegon — MataElang24.com, Akal merupakan alat berfikir, menalar dan memahami segala hal termasuk alat memahami wahyu. Karenanya, dengan ketinggian dan kemampuan penalarannya terhadap yang ada di alam raya ini maka akal akan mampu menemukan konsep adanya “Tuhan Sang Pencipta” semua yang ada walau tanpa wahyu.
Tetapi, setinggi-tingginya akal berfikir dan menalar alam raya ini, akal tidak akan sanggup menemukan jawaban siapakah “Tuhan Sang Pencipta” semua yang ada ini jika tanpa wahyu. Menemukan jawaban siapakah Tuhan sang pencipta adalah Allah bukanlah didapat melalui penalaran akal tetapi melalui penyampaian informasi dari Allah itu sendiri melalui wahyu kepada para Nabi hingga kepada manusia lainnya.
Jika manusia tanpa wahyu dapat menemukan jawaban siapakah Tuhan melalui penalaran akalnya, maka seratus persen akal tidak akan sanggup menemukan jawabannya, hanya persepsinya saja yang dianggapnya sebagai jawabannya, disinilah lahir Tuhan persepsi. Akal dapat menunjukkan adanya Tuhan, tapi tidak dapat mengetahui nama-Nya tanpa wahyu.
Jika manusia mampu mengenal Allah sebagai Tuhan cukup dengan penalaran akalnya tanpa wahyu, lalu untuk apa Allah mengutus para Nabi yang mendakwahkan atau menginformasikan “tidak ada Tuhan selain Allah” kepada manusia ?, kemudian apakah anda mengenal Allah sebagai Tuhan didapat dari penalaran akal atau diberi informasi ? Jika melalui penalaran akal, maka Tuhan anda adalah Tuhan persepsi.
@Alwiyan Rakjat Biasa












