Ketum BKN Gus Rofi’i Mukhlis Soroti Polemik DNA Najwa Shihab dan Pernyataan KH Imaduddin: “Jangan Sampai Ilmu Dipakai Memecah Umat”

JAKARTAMataElang24.com, Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Gus Rofi’i Mukhlis, turut menanggapi perbincangan publik terkait pernyataan jurnalis senior Najwa Shihab mengenai hasil tes DNA dirinya, serta penjelasan dari KH Imaduddin Utsman al-Bantani yang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

 

Dalam pernyataannya, Gus Rofi’i mengajak masyarakat agar menyikapi persoalan nasab, keturunan, dan hasil tes DNA secara bijak, ilmiah, serta tidak menjadikannya sebagai bahan untuk saling merendahkan atau memecah persatuan umat.

 

“Perbedaan pandangan itu biasa. Namun jangan sampai pembahasan ilmiah tentang DNA berubah menjadi ruang saling menghina atau menjatuhkan martabat kelompok tertentu. Ilmu seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan permusuhan,” ujar Gus Rofi’i Mukhlis.

 

Sebelumnya, Najwa Shihab dalam sebuah tayangan mengungkapkan bahwa hasil tes DNA yang dijalaninya menunjukkan unsur gen Timur Tengah hanya sekitar 3,4 persen. Ia juga menyebut bahwa secara genetik dirinya justru memiliki unsur keturunan Asia yang lebih dominan.

 

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari KH Imaduddin Utsman al-Bantani yang menjelaskan hasil pembacaan DNA dari sisi genealogis dan haplogroup. Dalam penjelasannya, KH Imaduddin menyinggung adanya kemiripan pola sosial pada sejumlah kelompok berhaplogroup tertentu yang di berbagai wilayah dunia sama-sama mengklaim memiliki garis keturunan tokoh besar dalam sejarah.

 

Menanggapi hal itu, Gus Rofi’i menilai bahwa diskusi ilmiah tetap perlu dihormati, namun penyampaiannya harus mengedepankan adab dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

 

“Kita harus membedakan antara kajian akademik dengan narasi yang bisa menimbulkan generalisasi terhadap suatu kelompok. Jangan sampai masyarakat awam menangkapnya sebagai serangan terhadap identitas tertentu,” katanya.

 

Menurutnya, Islam sendiri mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari garis keturunan, melainkan dari ketakwaan dan akhlaknya. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, bukan saling merendahkan.

 

Selain itu, Gus Rofi’i juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah derasnya perdebatan media sosial yang kerap memotong pernyataan secara sepihak tanpa konteks utuh.

 

“Jangan mudah terpancing narasi provokatif. Kita ini bangsa besar yang harus menjaga persaudaraan. Kalau ada perbedaan pandangan tentang sejarah, nasab, atau penelitian ilmiah, mari dibahas dengan kepala dingin dan saling menghormati,” tegasnya.

 

Ia berharap polemik tersebut tidak berkembang menjadi konflik horizontal di tengah masyarakat, terlebih menyangkut isu sensitif seperti identitas keturunan dan kehormatan keluarga.

 

“Umat hari ini lebih membutuhkan keteladanan, persatuan, dan solusi atas persoalan bangsa. Jangan sampai energi habis hanya untuk saling menyerang di media sosial,” pungkas Gus Rofi’i Mukhlis.

 

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *