Cilegon Banten — MataElang24.com, Dua Kalimat Syahadat: Kesaksian Akal, Hati, dan Wahyu.
@Alwiyan Rakjat Biasa
Tauhid dan Risalah: Fondasi Epistemologis Keimanan Islam
Dalam Islam, tauhid tidak berdiri sebagai sekadar klaim metafisis yang abstrak, tetapi terikat dengan risalah. Pernyataan “La ilaha illallah” menemukan penjelasan dan bentuknya yang otoritatif dalam “Muhammadur Rasulullah”. Akal manusia dapat mengantarkan seseorang pada kesadaran tentang adanya Tuhan, namun wahyu menjelaskan siapa Tuhan yang benar-benar layak disembah dan bagaimana cara menyembah-Nya secara benar.
Allah SWT berfirman:
_“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan selain Allah.”_ (QS. Muhammad: 19)
Dan juga firman-Nya:
_“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”_ (QS. Al-Anbiya’: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti seluruh risalah para nabi adalah tauhid. Karena itu, tauhid tanpa risalah berpotensi berubah menjadi spekulasi filosofis yang subjektif, sedangkan risalah tanpa tauhid kehilangan dasar ketuhanannya. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling menguatkan. Tauhid menjadi fondasi keimanan, sedangkan risalah menjadi penjelas dan pembimbingnya.
Allah SWT berfirman:
_“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”_ (QS. Al-Ahzab: 21)
Maka mengenal Allah dalam Islam tidak cukup hanya dengan spekulasi akal, tetapi juga dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya.
Sering muncul kritik bernada sinis terhadap dua kalimat syahadat:
_“Jika bersaksi Allah adalah Tuhan, kapan pernah melihat-Nya?”_
Pertanyaan seperti ini sebenarnya lahir dari anggapan bahwa sesuatu hanya bisa diyakini apabila terlihat langsung oleh mata. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, manusia menerima begitu banyak hal yang tidak pernah dilihatnya secara langsung.
Seseorang yakin dirinya memiliki akal, padahal akal tidak pernah terlihat oleh mata. Manusia juga percaya adanya gravitasi, listrik, gelombang radio, bahkan cinta dan kesedihan, meskipun semuanya tidak tampak secara visual. Yang terlihat hanyalah tanda, pengaruh, dan akibatnya. Maka keberadaan sesuatu tidak selalu dibuktikan dengan melihat zatnya secara langsung, tetapi juga melalui آثار (jejak), keteraturan, dan dampaknya.
Analogi sederhananya, ketika seseorang masuk ke sebuah istana megah yang penuh keteraturan, ukiran, pencahayaan, dan sistem yang presisi, lalu ia berkata:
_“Istana ini pasti ada perancang dan pembuatnya.”_
Maka orang tidak akan menertawakannya dengan mengatakan:
_“Apakah engkau pernah melihat langsung sang arsitek saat membangunnya?”_
Sebab keberadaan rancangan yang teratur justru menjadi bukti adanya perancang. Semakin agung dan rumit sebuah karya, semakin mustahil ia terjadi tanpa kehendak dan ilmu.
Begitu pula alam semesta. Langit, bumi, hukum-hukum alam, keteraturan kosmos, kehidupan, dan kesadaran manusia bukanlah sesuatu yang lebih sederhana daripada sebuah bangunan. Maka mengakui adanya Sang Pencipta justru lebih rasional daripada menganggap semuanya muncul sendiri tanpa sebab dan tujuan.
Allah SWT berfirman:
_“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”_ (QS. Ath-Thur: 35)
Dan firman-Nya:
_“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab.”_ (QS. Ali ‘Imran: 190)
Demikian pula, seorang mukmin bersaksi dengan akal sehat dan fitrahnya melalui berpikir _inferensi_ bahwa alam semesta yang teratur ini mustahil berdiri sendiri tanpa sebab yang Maha tinggi. Yang layak disebut Tuhan bukanlah sesuatu yang terbatas, bergantung, berubah, rusak, atau dikuasai ruang dan waktu. Tuhan yang layak disembah tidak mungkin sekadar benda, makhluk, ataupun sesuatu yang membutuhkan pertolongan selain diri-Nya.
Allah SWT berfirman:
_“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”_ (QS. Asy-Syura: 11)
Karena itu, Islam mendorong manusia menggunakan akal, perenungan, dan kesadaran epistemik. Al-Qur’an berkali-kali memuji Ulul Albab, yaitu orang-orang yang berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Keimanan dalam Islam bukan dibangun di atas anti-intelektualisme, melainkan di atas kesadaran, fitrah, dan pencarian kebenaran.
Rasulullah SAW bersabda:
_“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun akal dalam Islam bukanlah otoritas absolut yang berdiri sendiri. Akal dapat mengantarkan manusia pada kesadaran akan adanya Tuhan, sedangkan wahyu membimbing manusia agar tidak tersesat dalam memahami hakikat ketuhanan dan tujuan hidupnya.
Di sinilah pentingnya dua kalimat syahadat: yang satu menegaskan tauhid, dan yang lain memastikan jalan menuju tauhid itu dibimbing oleh risalah yang benar. Rasulullah SAW bersabda:
_“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”_ (HR. Malik)
Karena itu, syahadat bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kesaksian akal, hati, dan komitmen hidup untuk tunduk kepada Allah serta mengikuti Rasul-Nya.
Aku bersaksi dengan akal sehatku bahwa Dzat Yang Maha Pencipta (Robb) seluruh yang ada dan yang berhak disembah (Ilah) oleh seluruh makhluk bukanlah patung, bukanlah api, bukanlah matahari dan bintang-bintang, bukanlah manusia serta bukan pula mahluk lainnya. Sebab semua itu tidak layak disebut sang maha pencipta (Robb) dan tidak layak disembah (ilah). Yang layak disembah hanyalah Allah, Tuhannya Muhammad Saw dan Tuhan semesta alam.
Wallahu a’lam.












