Oleh: Dr KH Ahmad Fahrur Rozi.
Ketua MUI bidang pesantren
Jakarta — MataElang24.com, Di banyak pesantren hari ini, telah terjadi perubahan yang mungkin sulit dibayangkan satu atau dua dekade lalu. Seorang santri selesai mengaji kitab kuning setelah Subuh, lalu melanjutkan belajar bahasa asing, mengakses jurnal ilmiah melalui internet, atau berdialog dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memperluas wawasan keilmuannya.
Inilah wajah baru dunia pendidikan di abad ke-21.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara belajar berubah. Cara bekerja berubah. Cara memperoleh informasi juga berubah. Pengetahuan yang dahulu hanya dapat diakses melalui perpustakaan atau ruang kelas, kini tersedia dalam hitungan detik melalui gawai yang ada di genggaman.
Perubahan ini tidak mungkin dihindari. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah pesantren harus menerima teknologi, melainkan bagaimana pesantren memimpin pemanfaatan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi ruh pendidikannya.
Sejak awal berdirinya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu, tetapi juga pusat pembentukan karakter, akhlak, dan kepemimpinan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, fungsi inilah yang justru semakin penting.
AI mampu memberikan informasi, tetapi tidak mampu menanamkan keteladanan. AI dapat mengolah data dalam jumlah besar, tetapi tidak dapat mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab. AI dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan proses pendidikan akhlak yang selama ini menjadi kekuatan utama pesantren.
Karena itu, masa depan pesantren tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya semata, melainkan oleh kemampuannya melahirkan generasi yang mampu memadukan ilmu, akhlak, dan keterampilan hidup.
Santri masa depan tidak cukup hanya memahami kitab dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga harus mampu membaca perubahan zaman, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, menguasai bahasa asing, memiliki literasi digital yang baik, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi.
Di sinilah pentingnya transformasi pendidikan pesantren.
Pesantren perlu terus memperkuat integrasi antara pendidikan keagamaan, pendidikan umum, dan pendidikan vokasi. Kehadiran sekolah umum dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di lingkungan pesantren bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang saleh sekaligus kompeten. Generasi yang kuat dalam akidah, tetapi juga mampu bersaing dalam dunia kerja dan dunia usaha. Generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga menguasai teknologi dan memiliki keterampilan profesional.
SMK berbasis pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjawab kebutuhan tersebut. Melalui pendidikan vokasi, para santri dapat mengembangkan keterampilan di berbagai bidang seperti teknologi informasi, bisnis digital, teknik, tata boga, tata busana, multimedia, dan kewirausahaan. Dengan demikian, pesantren tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga melahirkan pencipta lapangan kerja yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi umat.
Lebih jauh lagi, pesantren harus menjadi pusat lahirnya generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Di tengah maraknya hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai dampak negatif media sosial, pesantren memiliki tugas besar untuk menanamkan etika digital kepada generasi muda.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana algoritma media sosial sering kali lebih berpengaruh daripada nasihat orang tua dan guru. Otoritas ilmu menghadapi tantangan baru. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menggunakan teknologi secara bijaksana harus menjadi bagian dari pendidikan pesantren masa kini.
Yang perlu kita khawatirkan bukanlah kecerdasan buatan itu sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kualitas moral penggunanya.
Teknologi tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Kecerdasan tanpa nilai dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlak berjalan beriringan, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Sejarah telah membuktikan bahwa pesantren selalu mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pesantren bertahan melewati masa kolonial, masa kemerdekaan, revolusi industri, hingga era digital. Kemampuan beradaptasi itulah yang menjadikan pesantren tetap relevan hingga hari ini.
Karena itu, pesantren tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam revolusi teknologi yang sedang berlangsung. Pesantren harus menjadi pelaku utama dalam menyiapkan generasi masa depan Indonesia.
Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, terampil tangannya, serta siap memimpin bangsa di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Sebab pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang hanya menguasai teknologi, tetapi oleh mereka yang mampu memadukan teknologi dengan kebijaksanaan, ilmu dengan akhlak, serta kemajuan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Dan di situlah pesantren akan selalu menemukan relevansinya. Red.












