Banten – Mataelang24.com, Beredarnya potongan rekaman dawuh Abuya KH. Muhtadi Dimyathi di media sosial yang kemudian memunculkan beragam penafsiran mendapat tanggapan dari M. Shobry, Jam’iyah Talaqqi Abuya Muhtadi Dimyathi Cadasari, Banten.
Menurutnya, informasi yang berkembang di media sosial telah menimbulkan kesalahpahaman karena potongan rekaman tersebut disebarkan tanpa disertai konteks pembahasan secara utuh.
“Saya cukup menyayangkan bagaimana media sosial begitu cepat menyebarkan potongan rekaman, namun banyak yang kemudian memberi kesimpulan sendiri tanpa memahami maksud dawuh Abah secara lengkap,” ujar M. Shobry.
Ia menjelaskan bahwa dirinya telah berkali-kali mendengar langsung penjelasan Abuya ketika mengajar. Oleh karena itu, ia merasa perlu meluruskan informasi yang berkembang agar masyarakat tidak salah memahami maksud dawuh tersebut.
Menurut M. Shobry, lafaz yang selama ini diperdebatkan juga telah banyak disalahpahami.
“Yang sering saya dengar dari Abah bukanlah lafaz إمامين sebagaimana yang dipahami sebagian orang, melainkan أئمتنا (a’immatanā) yang dalam susunan kalimat tersebut menjadi khabar dari yakūnū, dengan makna ‘imam-imam (ulama) kita’ atau ‘para ulama rujukan kita’.”
M. Shobry menegaskan bahwa dawuh Abuya bukan ditujukan untuk merendahkan ulama Beirut maupun ulama Mesir. Menurutnya, sasaran utama dawuh tersebut adalah kelompok-kelompok yang memiliki paham anti-Pancasila dan anti-NKRI yang menjadikan kitab-kitab cetakan Beirut dan Mesir sebagai rujukan tanpa terlebih dahulu meneliti isi naskah, memahami setiap redaksi sesuai maksud pengarang, maupun bertalaqqi kepada guru yang memiliki sanad keilmuan.
Menurutnya, Abuya justru sedang mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan kitab-kitab cetakan. Sebab, tidak sedikit kitab yang mengalami kesalahan cetak, pengurangan, penambahan, maupun perubahan redaksi yang dapat mengubah maksud penulis apabila dipahami tanpa bimbingan guru.
M. Shobry juga mengungkapkan bahwa Abuya pernah menyampaikan pesan lain yang menunjukkan sikap beliau sangat adil terhadap hasil cetakan luar negeri. Menurut Abuya, meskipun terdapat kekurangan atau kesalahan dalam sebagian cetakan, hal itu bukan berarti umat Islam harus memusuhi atau memboikot percetakan Beirut maupun Mesir.
“Abah pernah berpesan kepada saya, ‘Walaupun demikian, tetap kita beli saja kitab-kitab itu. Tidak usah repot-repot membuat percetakan sendiri. Tugas kita adalah memperbaiki jika menemukan kekeliruan. Karena percetakan Beirut dan Mesir telah memberikan banyak manfaat bagi umat. Kita juga tidak boleh menghalangi usaha orang lain.'”
Menurut M. Shobry, dawuh tersebut menunjukkan bahwa Abuya tidak pernah mengajarkan sikap antipati terhadap percetakan luar negeri. Sebaliknya, beliau mengajarkan sikap ilmiah, yaitu mengambil manfaat dari karya yang ada, mengoreksi apabila ditemukan kekeliruan berdasarkan kaidah keilmuan, serta tetap menghargai jerih payah para penerbit yang telah berjasa menyebarluaskan khazanah kitab-kitab Islam kepada dunia.
Pesan tersebut, lanjut M. Shobry, bukanlah penolakan terhadap ulama maupun percetakan Timur Tengah, melainkan ajakan agar umat Islam tetap berpegang kepada tradisi talaqqi, sanad keilmuan, dan tabayyun sebelum mengambil kesimpulan terhadap suatu naskah ataupun menyebarkan sebuah informasi.
Ia juga mengingatkan bahwa fenomena media sosial saat ini sering kali memperburuk keadaan.
“Potongan video beberapa detik sangat mudah menjadi viral. Namun ketika konteksnya hilang, masyarakat akhirnya memahami sesuatu yang berbeda dari maksud sebenarnya. Padahal ucapan seorang ulama harus dipahami secara utuh, bukan dipotong-potong,” katanya.
M. Shobry berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi setiap konten yang beredar di media sosial, terlebih jika berkaitan dengan dawuh para ulama.
“Jangan sampai kita menisbatkan kepada Abuya sesuatu yang tidak beliau maksudkan. Adab kepada ulama mengharuskan kita bertabayyun, mendengar penjelasan secara lengkap, dan tidak tergesa-gesa menyebarkan potongan rekaman yang berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat,” pungkasnya.
Dengan adanya klarifikasi ini, M. Shobry berharap polemik yang berkembang dapat diluruskan sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai pesan Abuya KH. Muhtadi Dimyathi, yakni pentingnya menjaga sanad keilmuan, bertalaqqi kepada guru, bersikap objektif terhadap kitab-kitab cetakan, memperbaiki kesalahan melalui kajian ilmiah, serta tidak mudah menyimpulkan suatu perkataan ulama hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.
(AM-02)












