Daerah  

KH. Abi Hafiz Gunawan Hadiri Haul Akbar Syekh Nawawi Mandaya Ke-76: Ribuan Jama’ah Padati Mandaya, Para Kiai Pengamal al-Awamil Hadir

Serang, BantenMataElang24.com, Malam ini, Minggu Malam (28 Desember 2025 / 08 Rajab 1447 H), kawasan Kampung Mandaya, Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, dipenuhi suasana haru, dzikir, dan semangat keilmuan. Ribuan jama’ah, masyarakat umum, para alumni, santri, dan para kiai pengamal kitab al-Awamil Mandaya hadir dalam Haul Akbar Syekh Nawawi Mandaya bin Syekh Muhammad Ali yang Ke-76.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh KH. Abi Hafiz Gunawan, S.Pd.I., Ketua Tanfidziah PWNU Provinsi Banten, yang memberikan apresiasi terhadap pelestarian tradisi santri dan sanad keilmuan ulama Mandaya. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya haul sebagai sarana menjaga sanad, adab, dan keberkahan ilmu:

“Haul bukan hanya mengenang ulama, tetapi menghubungkan kita dengan sanad keberkahan. Di sinilah ilmu, akhlaq, dan perjuangan Syekh Nawawi Mandaya diwariskan kepada generasi hari ini.”

 

Turut Hadir Sesuai Pamflet Resmi Acara

Sejumlah tokoh keagamaan dan pemerintahan tampak menghadiri rangkaian haul, di antaranya:

A. Imamull Khotib – Pengasuh Ponpes al-Awamil Bani Nawawi Mandaya

Samudi – Kepala Desa Mandaya

KH. Abi Hafiz Gunawan, S.Pd.I. – Ketua Tanfidziah PWNU Provinsi Banten

Andra Soni, S.M., M.AP. – Gubernur Provinsi Banten

KH. Mukhtar (Asnawaj Mukhtar) – Pesenagrohan – Cikeusal

Turut hadir pula para kiai pengamal al-Awamil Mandaya, alumni pesantren, serta jama’ah dari berbagai kota di Banten dan luar daerah. Suasana penuh kekhidmatan terlihat ketika pembacaan khotmil Qur’an, dzikir akbar, dan manaqib dilantunkan sebagai bentuk tabarruk dan penghormatan sanad keilmuan.

Akar Tradisi dan Landasan Aswaja

Tradisi haul ini selaras dengan prinsip para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa mengingat orang shaleh merupakan jalan turunnya rahmat, sementara Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-‘Ibad menegaskan pentingnya ilmu yang terus mengalir sebagai amal jariyah bagi para ulama.

Kitab al-Awamil Mandaya sendiri menjadi rujukan para santri dalam memahami nahwu, berdampingan dengan rujukan klasik seperti al-Ajurrumiyyah dan Alfiyyah Ibn Malik, yang menjadi fondasi memahami syariat dan ilmu alat di pesantren salafiyah.

Haul malam ini menjadi bukti bahwa Mandaya tidak hanya menjaga tradisi, namun merawat warisan ilmu yang terus hidup dari generasi ke generasi — min al-ulama ila al-ummah, min al-sanad ila al-barakah.

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *