Ada Dugaan Skenario Kandidat Vs Kotak Kosong, Edy Rahmayadi Harus Atur Siasat

 

MEDAN – mataelang24.com, Beberapa nama bakal calon (balon) Gubernur Sumut telah mendaftar ke bebrapa partai politik jelang Pilkada 2024. Namun sebagian masyarakat mempunyai persepsi salah satu di antaranya kemungkinan adanya kandidat yang mengtur skenarion agar dirinya melawan kotak kosong pada gelaran Pilkada Sumut 27 November mendatang.

Seperti yang kita ketahui, Gubernur Sumut periode 2018-2023, Edy Rahmayadi rencananya kembali maju sebagai balon Gubernur Sumut untuk priode mendatang.

Dugaan dugaan skenario kandidat vs kotak kosong tersebut muncul saat dalam forum diskusi yang digelar di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) pada Selasa 14 Mei lalu.

Dalam kesempatan itu, Luthfi A Saragih berpendapat hal ini terlihat dari popularitas salah satu balon Gubernur Sumut yang populer kenapa tidak mencalonkan diri melalui jalur independen, padahal hasil surveinya bagus.

Charta Politika yang menempatkan Bobby Nasution di posisi pertama dengan angka 35, 1 %, Edy Rahmayadi dengan angka 34, 3 %dan Musa Rajekhshah 8,5 % di posisi ketiga, menurut data yang dirilis pada 20-27 September 2022 itu bisa jadi berubah kembali.

Yang menjadi perhatian, sepatutnya Edy dan Bobby mengambil jalur independen saja sedari awal tahapan pencalonan karena di antaranya Edy dan Bobby bukan kader parpol, tapi merupakan tokoh dengan popularitas tinggi. Apalagi seperti diketahui, Bobby masih menjabat sebagai Wali Kota Medan sampai saat ini.namun krena jalur tersebut sudah ditutup lebih baik fokus dialih kan dalam hal pengawasan tahapan pilkada

Sementa itu, Presidium Gamakara-SU, Mardiansyah Manurung menilai, langkah antisipasi merebaknya dugaan skenario politik kandidat vs kotak kosong mendorong Edy sebagai petahana maju sebagai calon Gubernur Sumut lewat jalur independen, karena bisa saja eskalasi.

“Politik nasional meluas ke beberapa daerah, apalagi Sumut, patut diduga lobi-lobi politik di pusat berujung hanya mendorong satu paslon yang didukung mayoritas parpol yang memiliki kursi di DPRD Sumut. Jangan sampai hal ini terjadi di Sumut, hanya karena arogansi kekuasaan malah tidak lahir pemimpin berprestasi dan baik untuk Sumut,” ujarnya, Rabu (15/5/2024).

Dengan kondisi seperti ini, menurut Mardian, lebih baik Edy Rahmayadi memikirkan cara bagaimana untuk memilih opsi kedua, yakni dengan menempuh jalur independen.

“Apalagi di Sumut pernah ada satu contoh. Ketika Tengku Erry Nuradi tidak mendapat perahu saat mencoba maju menjadi calon Gubernur Sumut. Padahal sebelumnya dia gubernurnya. Jangan sampai terjadi lagi pada Edy Rahmayadi,” ujar Mardian.

Lebih lanjut Mardian mendorong adik-adik mahasiswa menjadi garda terdepan dalam mengawasi proses demokrasi pada pelaksanaan Pilkada 2024.

“Mahasiswa harus lebih jeli, melemparkan ide, dan juga mengamati langkah-langkah yang kita nilai tidak memperluas ruang demokrasi. Intinya mahasiswa harus mengedepankan sikap: Amati, Awasi, dan Laporkan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *