Brigjen Anumerta KH. Syam’un : Figur Multi Dimensi dan Multi Telenta Pahlawan Nasional Indonesia.

 

Oleh : Ustadz Fawali Barkil, S. Sos

Citangkil CilegonMataElang24.com, Sebagai bangsa yang senantiasa menggumuli cita-citanya, mestinya memperingati “Hari Pahlawan” bukanlah sekedar rutinitas tahunan hanya mengingat personifikasi pahlawan ansich, namun lebih jauh lagi adalah momentum muhasabah untuk memahami dan menginspirasi ideologi heroisme para pahlawan yang secara sukarela mengorbankan seluruh hidupnya demi suatu pembaharuan secara fundamental bagi kemerdekaan dan kemakmuran masyarakatnya.

 

Menginspirasi ideologi heroisme amatlah penting ditengah masyarakat yang kecenderungannya individualis, kapitalis dan materialis. Semangat heroisme atau kepahlawanan yang kemudian dipadukan dengan semangat religiusitas, tentu akan memberikan angin segar bagi pembaharuan di masyarakat dalam membangun bangsanya.

 

Negara sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada siapa saja yang berjasa kepada bangsa dan negara dengan menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Pahlawan Nasional Indonesia adalah gelar yang diberikan oleh negara kepada orang-orang yang telah terbukti berjasa bagi perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan dan peran lainnya menurut peraturan perundang-undangan Indonesia.

 

Gelar tersebut adalah gelar penghormatan tingkat tertinggi yang diberikan oleh negara kepada para pejuang mengingat pengorbanannya yang luar biasa bagi bangsa dan negara dalam melawan penjajah dan merebut kemerdekaan. Hal inilah yang seharusnya menjadi inspirasi generasi selanjutnya, “rela berkorban” dalam mengisi kemerdekaan melalui pembangunan nasional.

 

Diantara sosok pahlawan nasional tersebut ada yang dari tokoh agama atau ulama, tokoh militer, tokoh politik dan lain sebagainya. Jarang sekali seorang pahlawan nasional yang multi dimensi dan multi talenta, misalnya tokoh politik juga tokoh militer yang sekaligus juga tokoh ulama semisal Brigjen anumerta KH. Syam’un.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah tokoh militer Indonesia karena memang beliau adalah ex Panglima Divisi I TKR Banten – Bogor dengan pangkat Kolonel, banyak kiprahnya dalam kemiliteran diantaranya adalah memimpin operasi penumpasan PKI di Banten dibawah pimpinan Che Mamat pada tahun 1946 dan perang menghadapi serangan agresi militer NICA 1 dan 2 hingga beliau gugur dalam gerilya pada tahun 1949.

 

Selain tokoh militer, beliau juga tokoh politik Banten sebagai Bupati Kabupaten Serang pertama pasca kemerdekaan. Dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai Bupati, beliaulah yang mengirim muridnya yang alumni Al azhar Mesir yang bernama KH. Abdul Fatah Hasan untuk mewakili Banten dalam sidang-sidang BPUPKI di Jakarta bersama tokoh nasional lainnya menyusun dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

 

KH. Abdul Fatah Hasan diculik oleh Belanda ketika beliau sedang melakukan pembinaan kepada masyakat Cilegon ketika terjadi agresi militer Belanda. Hingga kini beliau tak dikatahui keberadaannya. Atas jasa-jasa beliau, pada tahun 2000 pemerintah memberi anugerah Bintang Mahaputera Utama Republik Indonesia kepada KH. Abdul Fatah Hasan dan nama beliau digunakan nama jalan di pusat Kota Serang.

 

Selain kiprah di kemiliteran dan politik, KH. Syam’un adalah tokoh pemberdayaan ekonomi rakyat. Beliau mendirikan organisasi “PEDATI” yang merupakan singkatan dari Persatuan Pedagang Tjilegon dan mendirika koperasi rakyat yang bernama _”Coeperatie Boemi Poetera”_ pada tahun 1927. Beliau juga mendirikan organisasi pemuda yang bernama “Jamiayatul Nahdlotil Subbanil Muslimin” sebagai media untuk membangun kesadaran keagamaan dan kebangsaan pemuda saat itu.

 

 

Diluar hal tersebut diatas, adalah basic utama KH. Syam’un yakni seorang ulama pendidik dengan karakter “Islam Gerakan” yang moderat. Tak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah tokoh ulama besar Banten dan pendiri pesantren Al-khairiyah Citagkil pada tahun 1925. Karya karya tulis beliau diantaranya adalah :

 

1. Al-jami’ah fi Aqoidil Muslimin wal Muslimah, diterbitkan tahun 1930.

 

2. Risalah ‘Aqidatul Athfal, diterbitkan tahun 1933

 

3. Mujmalush-shirotil Muhammadiyyah, diterbitkan tahun 1939

 

Karakter pejuang yang melekat pada diri KH. Syam’un mungkin mengair dari ayah beliau bernama KH. Alwiyan dan kakeknya yang bernama KH. Washid, sosok pemimpin perang Geger Tjilegon 1888, nama KH. Wasid adalah nama yang masyhur dalam sejarah pemberontakan melawan penjajah sehingga pada tahun 2000 negara memberi anugerah Bintang Mahaputera Utama Republik indonesia.

 

Nama KH. Washid pun termasuk nama yang dinominasikan dalam pengusulan gelar pahlawan nasional Indonesia tahun 2025. Selain dari ayah dan kakeknya, karakter pejuang yang melekat dalam diri KH. Syam’un juga dari buyutnya yang merupakan tokoh Perang Gudang Batu tahun 1850 yang bersama KH. Wakhiya memimpin perlaawan terhadap penjajahan Belanda dalam perang yang dahsyat terjadi pada tahun 1850 di Gudang Batu, Kec. Waringin Kurung, Kab. Serang.

 

Atas jasa-jasa almarhum Brigjen KH. Syam’un sebagai ulama, politisi dan tokoh militer kepada bangsa dan negara, kemudian selain anugerah Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000, di tahun 2018 Brigjen KH. Syam’un dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia

 

Kembali ke peringatan hari Pahlawan Nasional, memperingatinya merupakan momentum muhasabah bagi kita semua generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan bukan justru melupakan peran dan jasa pahlawan lalu merusak bangsa dan negara yang telah diperjuangkan mati-matian sabung nyawa.

 

Wassalam.

 

Redaksi MataElang24.com

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *