Catatan Perjalanan dari Cirebon: Tiga Pesantren, Satu Ikhtiar untuk NU Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi

JakartaMataElang24.com, Hari ini saya berkesempatan mengikuti survei lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama di Cirebon. Bersama tim, kami mengunjungi tiga pesantren besar yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan NU, yaitu Pondok Pesantren Buntet, Pondok Pesantren KHAS Kempek, dan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

 

Tujuan kami sederhana, tetapi penting: melihat langsung kesiapan masing-masing lokasi apabila kelak dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar. Penilaian tentu tidak cukup dilakukan dari laporan di atas meja. Lokasi harus disaksikan, diukur, dan dirasakan secara langsung agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

 

Perjalanan ini terasa semakin hangat karena kami didampingi Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi, sahabat sekaligus sesama alumni Lirboyo, serta Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz. Di setiap pesantren kami diterima dengan penuh kehangatan oleh para masyayikh dan keluarga besar pesantren. Sambutan yang tulus itu kembali mengingatkan bahwa persaudaraan di lingkungan pesantren jauh lebih besar daripada segala perbedaan pandangan.

 

Dari hasil peninjauan, saya melihat ketiga pesantren tersebut sama-sama layak dipertimbangkan. Kawasannya luas, fasilitasnya memadai, aksesnya baik, dan memiliki daya dukung yang cukup untuk menyelenggarakan forum sebesar Muktamar NU. Masing-masing memiliki keunggulan dan karakter tersendiri. Karena itu, semuanya pantas mendapat apresiasi sebagai calon tuan rumah.

 

Di sela perjalanan, saya menyempatkan diri berziarah ke makam almarhum KH Fauzan Syafi’i di Desa Jagapura, guru salah satu saya ketika dulu menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo. Ziarah kepada guru selalu menghadirkan rasa haru. Kita diingatkan bahwa apa pun amanah yang kita emban hari ini berdiri di atas doa, keikhlasan, dan perjuangan para masyayikh yang telah mendidik tanpa pamrih. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, mengampuni segala khilaf beliau, dan meninggikan derajatnya di sisi-Nya.

 

Ada satu pesan khusus yang sangat membekas dari KH Musthofa Aqil, Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek. Beliau mengingatkan kami agar keputusan mengenai lokasi Muktamar tidak semata-mata didasarkan pada hasil survei teknis. Survei tetap penting untuk menilai kesiapan sarana, prasarana, akses, dan kapasitas. Namun, setelah seluruh ikhtiar dilakukan, keputusan terbaik hendaknya juga dipandu oleh musyawarah dan istikharah kiai sepuh.

 

Nasihat itu terasa sangat khas NU. Jam’iyah ini sejak awal tidak pernah mempertentangkan ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Data, kajian, serta survei menjadi landasan rasional dalam mengambil keputusan. Sementara doa, musyawarah, dan istikharah menjadi ikhtiar spiritual agar keputusan yang dihasilkan benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan.

 

Saya meyakini, di mana pun Muktamar nanti diselenggarakan, selama tempatnya memenuhi syarat dan diputuskan melalui mekanisme yang baik, seluruh warga NU patut menerimanya dengan lapang dada. Sebab yang akan dikenang sejarah bukan sekadar lokasi penyelenggaraannya, melainkan kualitas persaudaraan, kedewasaan bermusyawarah, dan manfaat keputusan yang dihasilkan bagi jam’iyah.

 

Semoga Allah SWT membimbing seluruh proses ini, mempersatukan hati warga Nahdlatul Ulama, dan menghadirkan Muktamar yang melahirkan kepemimpinan terbaik, memperkuat persatuan, serta membawa kemajuan bagi NU, bangsa, dan umat. (AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *