Kemiri, Banten – MataElang24.com, Di tengah tantangan zaman modern, umat Islam kian membutuhkan sosok ‘alim (orang berilmu) yang bukan sekadar pandai bicara, melainkan benar-benar membawa maslahat dan keteladanan. Tetapi bagaimana mengenali ciri-ciri orang alim sejati? Sejumlah ulama klasik Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) telah lama menguraikan tanda-tanda penting yang layak direnungkan hari ini.
7 Ciri Utama Orang Alim Menurut Kitab Klasik
Berdasarkan kajian Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, Ta’lim al-Muta‘allim karya Al-Zarnuji, dan Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim (Hasyiyah Zarnuji), berikut tujuh ciri pokok orang alim yang relevan di zaman sekarang:
1. Ikhlas dalam Ilmu
Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu yang tidak diniatkan untuk Allah hanyalah beban. Orang alim sejati selalu meluruskan niat agar ilmu mendekatkan dirinya dan orang lain kepada Allah. (Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Ilmu)
2. Mengamalkan Ilmu
“Ilmu tanpa amal adalah gila, amal tanpa ilmu adalah sia-sia,” demikian Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta‘allim. Orang alim tak hanya pintar menjelaskan, tapi juga teladan dalam ibadah dan akhlak.
3. Rendah Hati (Tawadhu’)
Al-Ghazali menyebutkan orang alim yang sombong lebih berbahaya daripada orang bodoh yang rendah hati. Sikap tawadhu’ adalah mahkota ilmu. (Ihya’, Kitab Ilmu)
4. Penuh Kasih Sayang kepada Murid dan Masyarakat
Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, ulama menganjurkan guru bersikap lembut, sabar, dan peduli pada murid. Di zaman serba cepat ini, orang alim yang penyabar dan pengasih sangat dibutuhkan.
5. Berhati-hati dalam Berfatwa
Ulama klasik mengingatkan bahayanya fatwa tanpa ilmu mendalam. Orang alim sejati tidak gegabah memberikan hukum, tetapi menimbang maslahat dan dalil dengan bijak.
6. Berpegang Teguh pada Tradisi Aswaja
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ sangat menekankan ittiba’ (mengikuti jalan ulama terdahulu). Orang alim Aswaja tidak mudah terjebak paham ekstrem atau sekadar ikut-ikutan tren.
7. Mengajak kepada Akhlak Mulia
Semua kitab tarbiyah klasik menegaskan ilmu harus memperbaiki akhlak. Orang alim sejati bukan yang membuat perpecahan, tapi yang mengokohkan persatuan dan membina umat dengan akhlak mulia.
Tantangan Zaman Sekarang
Di era digital, gelar “ustaz” atau “kiai” bisa datang dari popularitas media sosial, bukan kualitas ilmu. Ulama klasik seperti Al-Ghazali telah mengingatkan bahayanya menuntut ilmu untuk mencari kedudukan dunia.
“Siapa yang menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itu justru akan menjadi bencana baginya,” (Ihya’ ‘Ulum al-Din).
Karena itu, umat perlu lebih cermat mengenali siapa yang layak dijadikan panutan.
Referensi Utama
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Ilmu.
Al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta‘allim Thariq at-Ta‘allum.
Hasyiyah Zarnuji, Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim.
Di tengah derasnya informasi, menghidupkan warisan kitab klasik Aswaja menjadi langkah penting untuk memastikan umat tak salah memilih guru. Orang alim sejati bukan hanya hafal dalil, tapi menjiwai ilmu dengan amal, akhlak, dan kasih sayang.
(AM-02)












