Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi.
Ketua PBNU bidang keagamaan
Jakarta — MataElang24.com, Di dunia pesantren, gelar “gus” sejatinya bukan sekadar identitas keluarga. Ia mengandung harapan besar agar seorang anak kiai melanjutkan tradisi ilmu, akhlak, dan pengabdian yang diwariskan para ulama terdahulu.
Karena itu, masyarakat pesantren sejak dahulu menaruh hormat kepada seorang gus bukan karena nasabnya semata, melainkan karena kesungguhannya menempuh jalan ilmu.
Namun perkembangan media sosial dalam satu dekade terakhir telah mengubah banyak hal.
Hari ini, menjadi terkenal sering kali lebih mudah daripada menjadi alim. Sebuah video berdurasi satu menit dapat menjangkau jutaan orang. Sebuah potongan ceramah yang kontroversial bisa viral dalam hitungan jam. Popularitas yang dahulu membutuhkan puluhan tahun pengabdian kini dapat diraih dalam beberapa bulan.
Perubahan ini melahirkan fenomena baru: sebagian gus lebih dikenal karena kontennya daripada karena keilmuannya.
Tidak sedikit yang aktif membuat podcast, video pendek, dan siaran langsung hampir setiap hari, tetapi jarang terlihat mengikuti forum kajian, bahtsul masail, atau mengkaji kitab secara mendalam. Waktu yang dahulu dihabiskan untuk mutalaah dan berguru perlahan tergeser oleh kebutuhan memproduksi konten dan menjaga eksistensi digital.
Tentu tidak ada yang salah dengan dakwah melalui media sosial. Bahkan pesantren perlu hadir di ruang digital agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Masalahnya muncul ketika media sosial tidak lagi menjadi sarana menyampaikan ilmu, melainkan berubah menjadi tujuan itu sendiri.
Pada titik inilah ukuran keberhasilan mulai bergeser. Kedalaman ilmu kalah penting dibanding jumlah pengikut. Popularitas lebih dihargai daripada kapasitas. Kemampuan tampil di depan kamera dianggap lebih menentukan daripada kemampuan membaca dan memahami kitab.
Padahal tradisi pesantren dibangun di atas logika yang berbeda.
Para ulama besar tidak lahir dari budaya instan. Mereka menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk belajar, menghafal, menelaah, berdiskusi, dan mengabdi. Nama besar mereka bukan hasil algoritma, melainkan buah dari ketekunan yang panjang.
Yang lebih mengkhawatirkan, budaya viral sering kali mendorong penyederhanaan persoalan agama yang sebenarnya kompleks. Pembahasan yang membutuhkan kedalaman ilmu dipadatkan menjadi slogan. Perbedaan pendapat para ulama disederhanakan menjadi hitam-putih. Akibatnya, agama lebih sering menjadi bahan konsumsi digital daripada sarana pendalaman spiritual dan intelektual.
Pesantren tentu tidak boleh memusuhi teknologi. Akan tetapi pesantren juga tidak boleh kehilangan identitasnya.
Kekuatan utama pesantren bukan pada kemampuan menciptakan konten, melainkan kemampuan melahirkan ulama yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan pandangan, dan kematangan akhlak. Konten hanyalah kendaraan. Kitab tetap merupakan mesinnya.
Karena itu, tantangan terbesar gus milenial hari ini bukan sekadar bagaimana menjadi populer di media sosial, melainkan bagaimana tetap menjaga disiplin belajar di tengah godaan popularitas yang begitu besar.
Sebab umat tidak kekurangan tokoh yang pandai berbicara. Yang semakin langka adalah mereka yang benar-benar menguasai apa yang dibicarakannya.
Pada akhirnya, followers bisa bertambah dan berkurang setiap hari. Algoritma dapat berubah sewaktu-waktu. Viralitas selalu memiliki umur yang pendek. Namun ilmu yang mendalam akan tetap dicari orang bahkan setelah pemiliknya wafat.
Sejarah pesantren tidak dibangun oleh mereka yang paling sering tampil di layar, melainkan oleh mereka yang paling tekun duduk di depan kitab. Maka jika seorang gus harus memilih mana yang lebih dahulu diperjuangkan, jawabannya tetap sama seperti yang diajarkan para masyayikh sejak dahulu: perkuat ilmu terlebih dahulu, popularitas akan mengikuti dengan sendirinya.
(AM-02)












