EDITORIAL | AGAMA BUDAYA SOSIAL MENJAGA MARWAH NAHDLIYIN DI TENGAH GONJANG-GANJING PBNU

Oleh: Wan Noorbek

Jakarta SelatanMataElang24.com, Ada sebuah prinsip yang sejak lama hidup dalam tradisi masyarakat Nahdliyin: “NU luwih gede tinimbang pribadi.” NU lebih besar daripada tokoh, jabatan, atau kursi apa pun. Karena itu, bagi sebagian dari kami yang tumbuh dalam kultur pesantren, pergantian ketua umum PBNU bukanlah hal yang membuat iman retak atau kecintaan kepada jam’iyyah bergeser.

Saya pribadi, terus terang saja: tidak peduli siapa yang memimpin PBNU. Ada ataupun tidak ada PBNU sebagai institusi, diri ini tetap Nahdliyin. Kecintaan pada NU bukan produk muktamar, bukan hasil dari dinamika politik ormas—melainkan bagian dari napas kehidupan sehari-hari, dari amaliah dan tradisi yang diwariskan para masyayikh.

Bagi saya, di hati yang paling dalam, Ketua Umum PBNU tetaplah Gus Dur. Beliau bukan sekadar mantan Ketua Umum; beliau adalah simbol ruh pergerakan, guru bangsa, dan maqom referensial bagi tradisi kebijaksanaan NU kontemporer. Setelah Gus Dur, saya menghormati KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siradj, dan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai estafet organisatoris—merepresentasikan fase-fase penting perjalanan jam’iyyah, tanpa menjadikan mereka pusat kesetiaan spiritual saya sebagai Nahdliyin.

Rais Aam: Penjaga Marwah, Bukan Figur Pencitraan

Dalam literasi NU klasik, jabatan tertinggi bukanlah Ketua Umum, melainkan Rais Aam. Beliau adalah sayyidul qiyadah, pemimpin ruhani, al-murobbi, penjaga marwah jam’iyyah. Tugasnya bukan tampil, bukan bersolek politik, bukan mencari tepuk tangan publik.

Rais Aam adalah simbol keheningan yang penuh wibawa—hadir bukan karena sering muncul di media, melainkan karena maqom keilmuan dan karamah ilmiyyah-nya yang melekat.

Di pesantren, kami diajarkan bahwa ulama besar itu tidak genit dengan urusan dunia, tidak suka tampil berlebihan, apalagi kalau tujuannya sekadar pencitraan. Ulama itu “lam yakun katsîrul kalam, wa lâ qillatul fi’li.” Banyak tindakan baik, sedikit bicara yang tidak perlu.

Di sinilah sering terjadi pergeseran nilai. Ketika seorang Rais Aam terlalu sering tampil di ruang publik dengan gaya yang jauh dari keteduhan, maka wibawanya bukan bertambah—justru bisa tereduksi di mata jamaah. Karena jabatan Rais Aam menuntut ketegasan tanpa kesombongan, kewibawaan tanpa pentas panggung.

NU Adalah Rumah Besar yang Tidak Boleh Dipersempit oleh Ego Personal

Kegaduhan internal, perebutan otoritas, saling klaim kebenaran—semua itu hanya permainan kecil dibandingkan warisan besar para muassis. NU tidak boleh dipersempit oleh ambisi segelintir orang yang merasa paling berhak atas jam’iyyah.

Kita sebagai jamaah tetap berdiri tegak:
– tetap membaca qunut,
– tetap manaqiban,
– tetap tawassul,
– tetap ngaji kuning,
– tetap hormat pada guru,
– tetap menjaga sanad.

Karena yang membuat kita NU bukanlah kantor PBNU, bukan gedung megah, bukan siapa yang duduk di jabatan itu dan ini.

Yang membuat kita NU adalah tradisi.
– Tradisi keilmuan.
– Tradisi adab.
– Tradisi kerendahan hati.
– Tradisi mencintai ulama tanpa kultus buta.

Itu sebabnya, ketika konflik PBNU memanas, saya memilih berdiri di posisi jamaah yang tidak mudah diombang-ambing oleh suara elite. Saya tetap Nahdliyin bukan karena susunan kepengurusan, melainkan karena keterikatan spiritual kepada para kiai dan leluhur kami.

Penutup: Terus Menjadi Nahdliyin Tanpa Menunggu Restu Otoritas

Sedalam apa pun dinamika yang terjadi di tubuh PBNU, kultur Nahdliyin tetap hidup dalam diri setiap pengamalnya. Kita tidak menunggu siapa pun untuk tetap mencintai NU, tidak menunggu putusan siapa pun untuk tetap mengabdi pada masyarakat.

“NU bukan milik elite, NU milik umat.”
Dan selama napas masih ada, kami akan tetap menjaga marwah itu.

Saya Nahdliyin. Titik.

Wan Noorbek (Nur Shollah Bek)
– Penggerak Gusdurian Jaksel
– Sekretaris Lembaga Dakwah PCNU Jaksel
– Sekjen Forum Ulama dan Kiyai Kampung (FUL KIPUNG)

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *