Epistemologi dan Personifikasi Waliyullah ; @Alwiyan Rakjat Biasa

Citangkil CilegonMataElang24.com, Meyakini keberadaan _waliyullah_ dan karomah berarti mengamini wahyu. Sebaliknya, tidak percaya terhadap eksistensinya tak ubahnya mengingkari wahyu. Namun demikian, meski saya percaya adanya _waliyullah_ tapi saya tidak begitu saja percaya terhadap pernyataan orang yang mengaku mengetahui hakikat kewalian seseorang kecuali terhadap apa yang telah Allah dan Rosul-Nya sebutkan. Saya juga tidak percaya atas pengakuan diri seseorang sebagai _waliyullah_ kecuali sosok tersebut tertulis dalam teks wahyu atau sabda Nabi. Oleh karenanya, kita tidak patut menerima atau membenarkan sesuatu yang tidak terkonfirmasi dalam nash atau teks-teks suci.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Bahrul Madzhab, dasar argumentasi dari suatu kesaksian adalah pengetahuan melalui penglihatan dan atau pendengaran tentang apa yang disaksikan oleh saksi. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra’: 36)

Oleh karena itu, kita tidak boleh secara gegabah memberikan stigma, merendahkan, atau bahkan memusuhi siapa pun, terlebih kepada orang-orang yang secara lahiriah merupakan ahli ibadah, selalu beramal saleh, istiqomah menjalankan syariat, berakhlak mulia, dan tidak pernah berdusta, boleh jadi dia adalah sosok yang disebut _waliyullah_ itu, atau bisa jadi sosok waliyullah itu adalah seorang santri yang nampak biasa saja. Demikian pula tidak patut gegabah terhadap sosok-sosok yang tampak tidak mencerminkan kesalehan lahiriah. Kita diminta untuk tetap menampilkan sikap terbaik, karena boleh jadi di balik tampilan yang tidak istimewa menyimpan keparipurnaan spiritualitas dan kalbu sehingga menjadikan dirinya dekat dan dikasihi Allah Swt. Sungguh, Allah murka terhadap orang-orang yang merendahkan dan memusuhi para wali-Nya.

Lantas, Bagaimanakah syarat seseorang bisa dianugerahi derajat _waliyullah_? Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini:

اَلَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. Yunus: 62)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” (Qs. Yunus: 63)

Jika syarat utama _waliyullah_ adalah beriman dan bertakwa menurut penilaian Allah dan bukan menurut pandangan manusia, maka dengan demikian yang sangat mengetahui keimanan dan ketakwaan seseorang secara hakikat hanyalah Allah Swt. Manusia hanya dapat mengetahui yang tampak secara lahiriah saja, itupun sangat mungkin berpotensi tertipu. Allah Swt. berfirman:

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dialah (Allah) Yang Maha Mengetahui hakikatnya tentang orang yang bertakwa” . (Qs. an-Najm: 32).

Untuk mengatakan bahwa diri sendiri suci saja dilarang apalagi tanpa ilmu atau pengetahuan dari Allah mengklaim orang lain adalah orang suci. Misalnya, ada ungkapan populer tentang klaim kewalian:

لا يعرف الولي الا الولي

“Tidak ada yang tahu perihal kewalian seseorang kecuali wali itu sendiri”

Sama halnya dengan:

لن يعرف الواحد الا الواحد

“Tidak akan tahu perihal orang yang bertauhid kecuali Allah Yang Maha Esa”

Menurut ilmu _Balaghah_, khususnya ilmu _Badi’_, teks di atas adalah kalam _”Jinas Tam”_ karena dua lafaz الولي sama-sama berupa _isim ma’rifat_. Jumlah huruf pada الولي jumlahnya sama dan -harakat_-nya pun sama. Hanya saja saya memaknai lafaz yang sama dengan makna yang berbeda. Lafaz الولي yang pertama adalah _waliyullah_ dan lafaz yang kedua adalah salah satu dari _al-Asma’ al-Husna_ atau nama Allah. Dengan demikian selaras dengan definisi _Jinas_ :

الجناس ان يتفق اللفظان فى النطق ويختلف فى المعنى

“Jinas adalah dua lafaz yang sama pelafalannya namun beda maknanya”

Dilihat dari sisi _Ilmu Balaghah_ yang lain, yakni _Ilmu Ma’ani_, teks tersebut tergolong _kalam khabar_:

الخبر هو ما يحتمل الصدق والكذب لذاته

“Berita ( _kalam khabar_ ) itu berpotensi mengandung kebenaran dan kebohongan. Maksudnya bertentangan atau tidak dengan kenyataannya.”

Dalam hal ini diperlukan faktor eksternal untuk memastikan suatu berita ( _kalam khabar_ ), _qadhiyah,_ atau proposisi itu benar atau dusta. Maka kerja epistemologi perlu diberdayakan untuk mengecek, mengoreksi, serta memastikan suatu berita, _qadhiyah_ , atau proposisi itu benar atau tidak benar, sehingga suatu pengetahuan benar-benar layak disebut sebagai pengetahuan.

Dengan demikian, teks (لا يعرف الولى الا الولى) tersebut menurut saya adalah _Jinas Tam_ . Sehingga saya memahami dengan makna, “Tidak ada yang tahu status gelar kewalian seseorang ( _al-wali_ ) kecuali Allah ( _al-Wali_ )”. Atau bisa juga dengan makna, “Tidak ada yang mengetahui Allah ( _al-Wali_ ) kecuali orang yang beriman dan bertaqwa ( _al-Wali_ )

Perihal syarat kewalian adalah “beriman” dan “bertakwa”, yang termaktub secara terang-benderang dalam surah Yunus ayat 62-63 sebagaimana disebutkan di atas, namun demikian hakikatnya hanyalah Allah yang maha mengetahui siapa yang beriman dan bertaqwa, sebagaimana dalam Alqur’an surat Annajm 32 :

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) Yang Maha Mengetahui tentang orang yang bertakwa” . (Qs. al-Najm: 32).

Dalam ayat tersebut, kata هو berkedudukan sebagai _mubtada_, dan اعلم sebagai khabarnya dengan menggunakan _isim tafdhil_ yang bersifat _superlative_ bermakna (yang maha mengetahui dari siapa pun).

Pertanyaannya, siapa yang menganugerahi seseorang gelar _”waliyullah”_ ? Kapan seseorang bisa mengetahui pemberian gelar tersebut?

Hadis berikut ini patut menjadi bahan renungan tentang kemahatahuan Allah terhadap hakikat dan kesejatian takwa hamba-hamba-Nya:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ أَيُّهَا الشَّيْخُ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ و حَدَّثَنَاه عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ تَفَرَّجَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلٌ الشَّامِىُّ وَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ الْحَارِثِ

Telah menceritakan kepada kami (Yahya bin Habib al-Haritsi), telah menceritakan kepada kami (Khalid bin al-Harits), telah menceritakan kepada kami (Ibnu Juraij), telah menceritakan kepadaku (Yunus bin Yusuf] dari (Sulaiman bin Yasar) dia berkata, “Orang-orang berpencar dari hadapan (Abu Hurairah), setelah itu Natil, seorang penduduk Syam, bertanya, “Wahai Syeikh, ceritakanlah kepada kami Hadis yang pernah kamu dengar dari Rasulullah Saw.” Dia menjawab, “Ya, saya pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas dia bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?” Dia menjawab, “Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.” Allah berfirman, “Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.” Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al-Qur’an demi Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rezeki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.” Allah bertanya, “Apa yang telah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridai.” Allah berfirman, “Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.” Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” Dan telah menceritakan kepadaku (Ali bin Khasyram), telah mengabarkan kepada kami (al-Hajjaj], yaitu Ibnu Muhammad, dari (Ibnu Juraij), telah menceritakan kepadaku (Yunus bin Yusuf) dari (Sulaiman bin Yasar), dia berkata, “Orang-orang berpencar dari hadapan (Abu Hurairah), lantas Natil al-Syami… kemudian dia menyebutkan Hadis tersebut seperti Hadisnya Khalid bin Al Harits.” [Hr. Muslim Nomor 3527]

Dari hadits diatas, kita bisa berkesimpulan bahwa, orang yang nampak sholih secara lahiriyah, ternyata Allah benamkan ke dalam neraka karena niatnya yang tidak baik menurut Allah.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita menolak atau membenarkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan dan bukan kewenangannya. Apalagi jika itu kewenangan Allah Swt, seperti halnya penganugerahan gelar _waliyullah_ kepada seorang hamba-Nya hanyalah kewenangan Allah. Apakah ada manusia yang tahu kapan waktu penganugerahannya?

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra’: 36)

Kecuali ketika Allah Swt telah mengabarkan kepada manusia tentang nama-nama orang bertakwa melalui wahyu dalam kitab-kitab-Nya dan melalui sabda Nabi-Nya maka kita wajib mengimani eksistensinya.

Kita hanya bisa melihat kesalehan dan ketakwaan secara lahiriah melalui pancaindra. Sementara hakikat sesungguhnya yakni bathiniyah hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Adakah manusia yang dapat mengetahui isi hati manusia lainnya yang gaib itu? Allah Swt. berfirman dalam surah al-Jin: 26-27:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا

“Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu.”

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِ نَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًا

“Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”

Di bagian lain Allah Swt. berfirman:

قُلْ لَّاۤ اَقُوْلُ لَـكُمْ عِنْدِيْ خَزَآئِنُ اللّٰهِ وَلَاۤ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَاۤ اَقُوْلُ لَكُمْ اِنِّيْ مَلَكٌ ۚ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَ عْمٰى وَالْبَصِيْرُ ۗ اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Qs. al-An’am: 50)

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (Qs. al-Naml: 65)

Nabi SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ». رواه مسلم

_”Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”._ (HR. Muslim).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَّبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمۡ ۚ إِن تَكُونُواْ صَٰلِحِينَ فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلۡأَوَّٰبِينَ غَفُورًا

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 25)

Lantas siapakah yang dapat melihat dan menilai isi hati seseorang ?

Isi hati adalah perkara yang ghoib, tidak ada yg mengetahui kecuali Allah dan pemiliknya, namun bisa jadi Allah menampakan isi hati seseorang kepada Rasullah SAW sebagai mukjizat tetapi Rasul tdk mengetahui seluruh perkara yg ghoib kecuali diberi informasi oleh Allah sebagaimana dalam Alquran ;

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Artinya, orang yg statusnya diluar Rosulullah, misalnya ulama atau waliyullah, tidak ada peluang untuk dapat mengindera terkait hal hal ghoib, karena hal tersebut terbatas hanya diberikan kepada para rosulNya yang di ridhoiNya.

Wallahu a’lam.

Penulis : @Alwiyan Rakjat Biasa

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *