Jelang Muktamar ke-35 NU, Ketua PWNU Banten Serukan Persatuan dan Kedewasaan dalam Berorganisasi

BantenMataElang24.com, Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, KH. Hafis Gunawan, menyampaikan pesan penting kepada seluruh nahdliyin agar tetap menjaga persatuan, menghormati pilihan, serta menerima hasil muktamar dengan lapang dada.

 

Dalam pesannya, KH. Hafis Gunawan menegaskan bahwa siapa pun yang nantinya dipercaya menjadi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU merupakan putra-putra terbaik Nahdlatul Ulama yang lahir dari proses panjang, pengabdian, dan perjuangan untuk jam’iyah.

 

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam sebuah forum muktamar merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai menjadi alasan bagi sesama nahdliyin untuk saling menjauh, berselisih, bahkan terpecah.

 

“Berbeda pilihan adalah biasa. Berpisah karena pilihan, jangan sampai terjadi.”

 

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kontestasi dalam muktamar harus ditempatkan sebagai bagian dari dinamika organisasi, bukan sebagai pertarungan yang menghilangkan ukhuwah.

 

KH. Hafis Gunawan juga mengajak seluruh warga NU untuk menerima hasil muktamar dengan lapang dada, menghormati keputusan yang telah ditetapkan, serta kembali menyatukan hati dan langkah setelah seluruh proses permusyawaratan selesai.

 

Menurutnya, yang diperjuangkan bukan semata-mata siapa yang menjadi pemimpin NU, melainkan bagaimana NU semakin kuat, teduh, maslahat, dan mampu membawa keberkahan bagi umat dan bangsa.

 

Ahmad Mujib: Keteladanan dalam Memegang Amanah

 

Pesan tersebut mendapat apresiasi dari Ustaz Ahmad Mujib, Ketua MWC NU Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Ia mengaku bangga terhadap sosok Ketua PWNU Banten yang menurutnya mampu mengambil sikap secara tegas, penuh pertimbangan, serta bertanggung jawab terhadap amanah organisasi.

 

“Beliau sosok yang tegas, penuh pertimbangan, bertanggung jawab terhadap amanah dan manut terhadap keputusan para ulama. Saya sangat bangga kepada Ketua kami di PWNU Banten,” ujar Ahmad Mujib.

 

Lebih jauh, pesan KH. Hafis Gunawan dinilai menjadi pengingat penting bagi seluruh nahdliyin bahwa Muktamar adalah momentum memilih kepemimpinan, bukan momentum untuk memutus persaudaraan.

 

Setelah muktamar berakhir, seluruh perbedaan pilihan semestinya kembali dilebur dalam satu komitmen besar untuk menjaga keutuhan jam’iyah.

 

NU satu, hati satu, khidmah satu. Itulah semangat yang diharapkan terus terjaga di tengah dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *