Oleh: Ahmad Fahrur Rozi
Jakarta — MataElang24.com, Nahdlatul Ulama dibangun di atas tradisi musyawarah, persaudaraan, dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi. Karena itu, setiap agenda resmi organisasi harus dijaga dan dilaksanakan dengan baik demi kemaslahatan jam’iyah dan jamaah.
Rencana penyelenggaraan Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso patut mendapat dukungan penuh dari seluruh warga Nahdliyin. Forum ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, serta menentukan langkah-langkah strategis organisasi ke depan.
Kita berharap tidak ada lagi alasan untuk menunda pelaksanaan Konbes dan Munas. Semakin cepat forum ini terlaksana, semakin baik bagi kesehatan organisasi. NU membutuhkan kepastian arah dan agenda yang jelas, terutama menjelang pelaksanaan Muktamar yang telah direncanakan pada bulan Agustus mendatang.
Salah satu agenda penting yang diharapkan dapat diputuskan dalam forum tersebut adalah penetapan lokasi Muktamar NU. Kejelasan lokasi dan persiapan sejak dini akan membantu seluruh perangkat organisasi bekerja lebih efektif serta memberikan kepastian kepada warga NU di seluruh Indonesia.
Selain itu, Konbes juga penting untuk membahas dan menetapkan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU yang mampu menjaga persatuan organisasi. Banyak warga NU berharap sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dapat kembali digunakan dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Sistem ini dinilai lebih sesuai dengan tradisi musyawarah para ulama, sekaligus dapat meminimalkan polarisasi, kompetisi yang berlebihan, serta potensi praktik politik uang yang sering menjadi kekhawatiran banyak pihak menjelang Muktamar.
Tujuan utama AHWA bukanlah memenangkan kelompok tertentu, melainkan menjaga marwah organisasi agar proses regenerasi kepemimpinan berlangsung dengan lebih teduh, bermartabat, dan berorientasi pada kemaslahatan jam’iyah. NU membutuhkan suasana persaudaraan dan kebersamaan, bukan perpecahan akibat kontestasi yang terlalu tajam.
Harus diakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir, banyak warga NU yang merasakan menurunnya daya dorong organisasi. Berbagai dinamika internal yang muncul di ruang publik juga menimbulkan kesan bahwa hubungan antar unsur kepemimpinan belum sepenuhnya harmonis. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat mengurangi energi organisasi dalam melayani umat.
NU terlalu besar untuk disibukkan oleh persoalan internal yang berkepanjangan. Energi organisasi seharusnya difokuskan untuk memperkuat pesantren, meningkatkan kualitas pendidikan, memberdayakan ekonomi warga, melayani masyarakat, dan menjaga persatuan bangsa.
Karena itu, Muktamar merupakan jalan terbaik, konstitusional, dan bermartabat untuk memulai kembali. Melalui Muktamar, seluruh warga NU dapat menyalurkan aspirasi sesuai aturan organisasi. Dari forum itulah diharapkan lahir kepemimpinan PBNU yang solid, kompak, harmonis, rendah hati, dan mampu bekerja lebih efektif menjawab tantangan zaman.
Tradisi NU selalu mengajarkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal biasa, tetapi persatuan jam’iyah harus tetap menjadi tujuan utama. Konbes, Munas, dan Muktamar bukanlah arena pertentangan, melainkan sarana memperkuat ukhuwah, memperteguh khidmah, dan memperbarui semangat pengabdian kepada umat.
Mari kita sukseskan Konbes dan Munas NU di Ploso. Semoga forum tersebut berjalan lancar, menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi organisasi, termasuk penetapan lokasi Muktamar dan mekanisme pemilihan yang menjaga persatuan warga Nahdliyin, serta menjadi langkah awal menuju kepemimpinan PBNU yang lebih solid, kompak, dan fokus bekerja untuk kemajuan umat.
Red












