Oleh: Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi
Jakarta — MataElang24.com, Banyak orang tua bertanya-tanya, mengapa anak bisa berjam-jam betah memegang gadget, tetapi ketika diminta mondok justru merasa berat, bosan, bahkan ingin pulang?
Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Gadget dirancang untuk memberikan kesenangan instan. Setiap sentuhan layar menghadirkan hiburan, permainan, video, atau media sosial yang memicu rasa senang secara cepat. Anak tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan kepuasan. Semua tersedia dalam hitungan detik.
Sebaliknya, kehidupan di pesantren mengajarkan proses. Santri harus belajar disiplin, mengatur waktu, bangun pagi, mengaji, menghafal, menghormati guru, dan hidup bersama teman-teman yang beragam. Hasil pendidikan pesantren tidak langsung terlihat dalam sehari atau seminggu. Ia tumbuh perlahan, tetapi membentuk karakter yang kuat untuk seumur hidup.
Gadget memberikan kesenangan sesaat. Pesantren membangun kematangan jiwa.
Anak yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu secara instan memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan pesantren. Karena itu, wajar jika pada masa awal mondok ada rasa rindu rumah, tidak nyaman, atau keinginan untuk pulang. Hampir semua santri pernah mengalaminya.
Namun justru di situlah letak nilai pendidikan pesantren. Anak belajar sabar ketika menghadapi kesulitan. Belajar mandiri tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Belajar hidup sederhana, menghargai waktu, dan membangun persahabatan yang tulus.
Banyak alumni pesantren yang ketika kecil sempat menangis ingin pulang. Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, mereka justru bersyukur pernah merasakan tempaan hidup di pesantren. Bekal itu menjadi modal penting saat menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Karena itu, orang tua tidak perlu tergesa-gesa ketika anak mengeluh pada masa awal mondok. Berikan dukungan, motivasi, dan waktu untuk beradaptasi. Jangan membandingkan pesantren dengan gadget. Keduanya memang menawarkan hal yang berbeda.
Gadget menghibur hari ini.
Pesantren menyiapkan masa depan.
Dan sering kali, sesuatu yang paling berharga dalam hidup memang membutuhkan proses yang tidak selalu mudah, tetapi hasilnya jauh lebih bermakna. Red.












