Muktamar NU: Riang Gembira Menyambut Takdir Terbaik Oleh: Dr. H Ahmad Fahrur Rozi

JakartaMataElang24.com, Muktamar Nahdlatul Ulama adalah hajatan besar keluarga NU. Momentum untuk bersilaturahmi, melakukan evaluasi, bermusyawarah, saling menyapa, sekaligus ikhtiar memilih pemimpin terbaik yang akan melanjutkan khidmah kepada umat, bangsa, dan negara.

 

Karena itu, seharusnya Muktamar disambut dengan hati yang gembira, bukan dengan prasangka. Dengan semangat persaudaraan, bukan dengan saling curiga. Jangan sampai forum yang mulia ini justru akhirnya meninggalkan luka di antara sesama warga NU.

 

Soal lokasi Muktamar, mari kita sikapi dengan dewasa. Di mana pun Muktamar dilaksanakan, selama tempatnya representatif, mampu melayani peserta dengan baik, aman, nyaman, dan memenuhi ketentuan organisasi, insya Allah semuanya baik. Tempat hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah kualitas musyawarah dan persaudaraan yang terjaga.

 

Saya pribadi meyakini, Muktamar di mana pun tetap akan melahirkan keputusan terbaik jika seluruh peserta datang dengan niat yang baik.

 

Dalam sepak bola kita sering melihat tim yang bermain sangat bagus. Menguasai pertandingan sejak awal, menciptakan banyak peluang, bahkan lebih diunggulkan. Namun ketika pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti, justru tim yang semula tidak diunggulkan keluar sebagai pemenang.

 

Apakah itu berarti tim pemenang pasti lebih hebat? Belum tentu. Itulah pelajaran bahwa setelah ikhtiar dilakukan sekuat tenaga, hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.

 

Begitu pula dalam Muktamar NU. Semua calon pasti memiliki kelebihan. Semua mempunyai pengalaman, sahabat, pendukung, dan ikhtiar masing-masing. Silakan berjuang dengan sebaik-baiknya, tetapi tetap menjaga adab, menjaga persaudaraan, dan menghormati aturan organisasi.

 

Kalau nanti Allah mentakdirkan idola kita menang, jangan sombong. Kalau belum mendapat amanah, jangan kecewa berlebihan. Karena amanah bukan milik siapa yang paling ingin, tetapi milik siapa yang Allah kehendaki melalui mekanisme jam’iyah.

 

NU ini terlalu besar kalau hanya dipandang sebagai tempat berebut jabatan. Jabatan hanyalah amanah. Hari ini di depan, besok bisa di belakang. Hari ini memimpin, besok kembali menjadi warga biasa yang tetap mengabdi.

 

Yang terpilih nanti adalah pemimpin seluruh warga NU, bukan milik kelompok tertentu. Karena itu, setelah Muktamar selesai, tidak boleh ada kubu-kubuan lagi. Saatnya kembali bergandengan tangan, saling menguatkan, dan bersama-sama membesarkan NU.

 

Alhamdulillah, NU tidak pernah kekurangan kader. Dari dulu sampai sekarang, Allah selalu menghadirkan orang-orang terbaik pada zamannya. Ada yang mengabdi di pesantren, ada yang berdakwah di tengah masyarakat, ada yang mengurus organisasi. Semuanya mulia jika diniatkan karena Allah.

 

Maka mari kita sambut Muktamar dengan riang gembira. Berbeda pilihan itu biasa. Berbeda dukungan juga lumrah. Tetapi jangan sampai karena perbedaan itu kita kehilangan persaudaraan yang telah dibangun para masyayikh pendahulu kita selama lebih dari satu abad.

 

Pada akhirnya, kita semua berada dalam satu barisan yang sama: Nahdlatul Ulama. Tujuan kita bukan sekadar memilih ketua umum, melainkan memastikan NU tetap rukun, kuat, bermartabat, dan terus memberi manfaat bagi umat.

 

Siapa pun yang nanti terpilih, itulah kader terbaik yang Allah takdirkan untuk memimpin NU pada masanya. Tugas kita bukan memperdebatkan takdir, tetapi menerima hasil Muktamar dengan lapang dada, lalu bersama-sama mengawal agar NU semakin maju dan semakin membawa maslahat bagi bangsa dan umat. (AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *