NU di Era TikTok: Menjaga Tradisi, Menjemput Masa Depan

Oleh: Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi

Ketua PBNU Bidang Keagamaan

 

JakartaMataElang24.com, Beberapa waktu lalu saya melihat seorang santri muda menjelaskan hukum fikih dalam video singkat berdurasi kurang dari satu menit. Video itu ditonton puluhan ribu orang. Saya tersenyum. Dulu, ilmu agama disampaikan dari serambi masjid, ruang pengajian, dan bilik pesantren. Hari ini, ilmu yang sama dapat menjangkau jutaan orang hanya melalui layar ponsel.

 

Zaman memang berubah. Cara manusia belajar dan menerima informasi juga berubah. Namun perubahan zaman tidak boleh membuat kita kehilangan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi pegangan. Di sinilah tantangan sekaligus peluang besar yang dihadapi Nahdlatul Ulama.

 

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berakar kuat pada tradisi pesantren, NU memiliki modal sosial yang luar biasa. Ribuan pesantren, jutaan warga, dan jaringan ulama yang tersebar hingga pelosok desa merupakan kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak organisasi lain. Pertanyaannya, apakah kekuatan besar itu sudah hadir secara optimal di ruang digital?

 

Hari ini generasi muda hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari mereka menerima ribuan pesan melalui media sosial. TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan berbagai platform digital telah menjadi ruang publik baru yang sangat berpengaruh terhadap cara berpikir masyarakat. Dalam situasi seperti ini, dakwah tidak cukup hanya benar, tetapi juga harus mampu hadir dengan cara yang menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.

 

Karena itu, menurut saya, salah satu pekerjaan besar NU ke depan adalah mendorong kader-kader mudanya untuk lebih aktif berdakwah di ruang digital. Jangan sampai media sosial dipenuhi oleh konten yang memecah belah, ujaran kebencian, hoaks, atau paham keagamaan yang keras dan ekstrem, sementara warga NU hanya menjadi penonton.

 

Kita membutuhkan lebih banyak santri, mahasiswa, guru, dosen, aktivis, dan kader muda NU yang menjadi kreator konten. Media sosial harus dipenuhi dengan dakwah Islam yang ramah, santun, menyejukkan, dan mencerdaskan. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini menjadi fondasi NU harus hadir dalam bahasa yang mudah dipahami oleh generasi digital.

 

Video pendek yang inspiratif, podcast keagamaan, tulisan ringan, infografis edukatif, hingga konten humor yang mendidik dapat menjadi sarana dakwah yang sangat efektif. Jika jutaan warga NU bergerak bersama memproduksi konten positif, maka ruang digital akan menjadi lebih sehat dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

 

Namun menjadi modern bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi yang kuat adalah fondasi untuk menghadapi masa depan. Anak-anak muda NU harus tetap bangga dengan tahlilan, istighatsah, manaqiban, pengajian kitab kuning, dan berbagai tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama. Tradisi bukan penghalang kemajuan. Tradisi adalah identitas yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi.

 

Pesantren juga perlu terus beradaptasi. Selain mengajarkan ilmu agama dan akhlak, pesantren perlu memperkuat literasi digital, etika bermedia sosial, kemampuan komunikasi publik, serta pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan umat. Santri masa depan harus mampu membaca kitab kuning dengan baik sekaligus memahami perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

 

Sebagai orang yang sehari-hari hidup di lingkungan pesantren, saya meyakini bahwa pesantren memiliki modal yang sangat kuat untuk menghadapi perubahan zaman. Pesantren tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga membentuk karakter, adab, dan akhlak. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan di tengah dunia digital yang sering kali kehilangan etika dan kebijaksanaan.

 

Pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh para kiai dan pengurusnya, tetapi juga oleh jutaan anak muda yang hari ini sedang belajar, berkarya, dan membangun mimpi. Jika generasi muda NU mampu menggabungkan akhlak pesantren dengan kecakapan teknologi, maka NU akan tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang relevan bukan hanya hari ini, tetapi juga puluhan tahun yang akan datang.

 

Di era kecerdasan buatan dan media sosial saat ini, NU tidak cukup hanya kuat di mimbar dan ruang pengajian. NU juga harus kuat di ruang digital. Ketika kader-kader muda NU hadir secara aktif menyebarkan konten-konten positif, maka media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang sangat efektif untuk membangun peradaban dan memperkuat persatuan bangsa.

 

NU lahir dari tradisi, tetapi tidak hidup untuk masa lalu. NU hadir untuk menjaga warisan ulama sambil menjemput masa depan. Dengan semangat itu, NU akan tetap muda meskipun usianya telah melampaui satu abad. Sebab yang membuat organisasi menjadi tua bukanlah umurnya, melainkan ketika ia berhenti belajar, berhenti beradaptasi, dan berhenti menyiapkan generasi penerusnya.

 

Saatnya NU menjadi tuan rumah, bukan hanya di masjid dan pesantren, tetapi juga di ruang digital tempat generasi masa depan sedang dibentuk.

 

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *