Oleh: Ahmad Fahrur Rozi
Jakarta — MataElang24.com, Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda hari ini bukanlah kurangnya akses informasi, melainkan berkurangnya pendampingan dan kasih sayang.
Anak-anak kita sekarang tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Mereka dapat mengakses jutaan informasi dari telepon genggam dalam hitungan detik. Namun pada saat yang sama, tidak sedikit yang tumbuh dengan minimnya kehadiran figur ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian ayah harus bekerja jauh dari keluarga. Sebagian terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan pribadi. Sebagian lainnya hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa cukup ruang untuk berdialog, bercerita, dan belajar menghadapi kehidupan dari sosok yang seharusnya menjadi teladan pertama bagi mereka.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Ia juga mulai dirasakan hingga ke desa-desa dan lingkungan pesantren.
Padahal dalam tradisi keluarga, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ayah adalah pendidik, pelindung, penunjuk arah, dan sumber keteladanan. Dari ayahlah seorang anak belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kedisiplinan, dan cara menghadapi masalah hidup.
Ketika fungsi itu melemah, anak-anak akan mencari figur pengganti di tempat lain. Ada yang menemukannya pada tokoh publik di media sosial. Ada yang menemukannya pada kelompok pergaulan. Ada pula yang terseret kepada lingkungan yang salah.
Di sinilah pesantren memiliki peran yang sangat penting.
Sejak dahulu, pesantren bukan hanya tempat mengaji. Pesantren adalah ruang pembentukan manusia. Di dalamnya, seorang santri tidak hanya belajar membaca kitab kuning, tetapi juga belajar menjalani kehidupan.
Kehadiran kiai, ustaz, musyrif, dan para pengasuh hadir menjadi figur yang mengisi ruang pendampingan yang tidak sepenuhnya diperoleh di rumah. Mereka bukan pengganti orang tua dalam arti sebenarnya, tetapi menjadi teladan yang membantu proses pertumbuhan seorang anak.
Seorang santri yang tinggal di pesantren belajar lebih dari sekadar materi pelajaran. Ia belajar bangun pagi sebelum fajar, berjamaah tepat waktu, menghormati guru, hidup sederhana, berbagi dengan teman, serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Nilai-nilai seperti itu tidak selalu bisa diajarkan melalui ceramah. Ia tumbuh melalui keteladanan dan kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
Karena itulah banyak orang tua yang terharu ketika melihat perubahan anaknya setelah mondok. Anak yang dahulu sulit diatur menjadi lebih disiplin. Yang dahulu kurang peduli menjadi lebih bertanggung jawab. Yang dahulu manja mulai mampu mengurus dirinya sendiri.
Perubahan itu tidak terjadi karena pesantren memiliki teknologi yang canggih atau fasilitas yang mewah. Perubahan itu lahir dari lingkungan pendidikan yang menghadirkan pendampingan secara terus-menerus.
Di tengah era digital saat ini, peran tersebut justru semakin penting.
Media sosial dapat menyediakan hiburan. Teknologi dapat menyediakan informasi. Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan. Namun tidak satu pun dari semua itu mampu menggantikan kebutuhan dasar seorang anak untuk mendapatkan teladan hidup yang nyata.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan orang yang mengajari apa yang benar. Mereka membutuhkan sosok yang menunjukkan bagaimana menjalani kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Di pesantren, santri melihat langsung bagaimana kiai mengajar, beribadah, melayani tamu, memimpin masyarakat, dan menghadapi berbagai persoalan. Proses melihat dan meneladani inilah yang sering kali membentuk karakter jauh lebih kuat daripada pelajaran yang tertulis di buku.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan pesantren, kita tidak boleh hanya membicarakan kurikulum, gedung, atau teknologi pendidikan. Kita juga harus menjaga fungsi pesantren sebagai rumah pembentukan karakter dan ruang pendampingan generasi muda.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, pesantren tetap menawarkan kehangatan hubungan antarmanusia. Di tengah banjir informasi, pesantren tetap mengajarkan kebijaksanaan. Dan di tengah semakin langkanya figur teladan, pesantren tetap menghadirkan sosok-sosok yang dapat dijadikan panutan.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa pesantren tetap bertahan dan terus dibutuhkan hingga hari ini.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mengisi pikiran, melainkan juga menemani pertumbuhan jiwa. Dan di saat banyak anak kehilangan figur yang membimbing langkah mereka, pesantren hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar, melainkan sebagai tempat bertumbuh menjadi manusia yang utuh. Red.












