Diskusi Kebangsaan, Cak OFi dan KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani: Kritik Konstruktif untuk Perbaikan PBNU demi Persatuan Bangsa

JakartaMataElang24.com, Percakapan terbuka antara Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Cak OFi, dan ulama asal Tasyik, KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani, menjadi perhatian warga Nahdliyin setelah keduanya membahas dinamika yang berkembang di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

 

Diskusi tersebut bermula dari pertanyaan yang banyak disampaikan warga Nahdliyin, khususnya komunitas Nahdliyin United, terkait polemik yang muncul menjelang peringatan Hari Lahir (Harlah) NU. Salah satu isu yang ramai diperbincangkan adalah munculnya surat yang dikaitkan dengan Rais Aam PBNU, yang kemudian dipersoalkan karena adanya keberatan terkait penggunaan tanda tangan yang dinilai tidak sesuai.

 

Dalam dialog tersebut, Cak OFi meminta pandangan KH. Alawi mengenai kondisi yang berkembang dan solusi yang dapat ditawarkan agar situasi tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan di kalangan warga NU.

 

Menanggapi hal itu, KH. Alawi menyampaikan bahwa sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, dirinya berharap PBNU ke depan semakin diisi oleh kepemimpinan yang bersih, kuat, serta mampu menjaga marwah organisasi sebagai penjaga tradisi Islam moderat sekaligus mitra strategis negara dalam menjaga persatuan bangsa.

 

Ia mengungkapkan bahwa dirinya tengah menyiapkan sebuah buku berjudul “Operasi Senyap PBNU atas Ba’alawi”, yang lahir dari keprihatinannya terhadap sejumlah sikap organisasi yang dinilai terlalu diam terhadap persoalan tertentu yang berkembang di tengah masyarakat.

 

Menurutnya, selama ini PBNU dikenal sebagai garda terdepan dalam merespons persoalan nasional yang krusial. Namun, pada isu tertentu yang dianggap sensitif, sikap organisasi dinilai kurang memberikan penjelasan yang memadai sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan warga.

 

KH. Alawi menegaskan bahwa buku tersebut bukan bertujuan menyerang PBNU ataupun tokoh tertentu, melainkan bentuk kecintaan dan dorongan agar organisasi dapat melakukan evaluasi internal secara sehat. Ia bahkan menegaskan tidak menyebut satu pun nama kiai atau tokoh dalam tulisannya.

 

Ia menyebut setidaknya terdapat sejumlah kebijakan dan sikap yang menurutnya perlu dikritisi agar tidak berdampak negatif terhadap umat maupun terhadap nilai-nilai kebangsaan yang selama ini dijaga NU bersama negara.

 

Dalam kesempatan yang sama, Cak OFi juga menyoroti kiprah KH. Alawi sebagai penulis yang produktif. Sebelumnya, KH. Alawi dikenal melalui karya-karyanya yang membahas isu-isu keagamaan dan sejarah, termasuk buku tentang verifikasi dan kajian nasab Ba’alawi yang cukup luas diperbincangkan di berbagai forum diskusi.

 

Diskusi tersebut menegaskan bahwa perbedaan pandangan di dalam organisasi besar merupakan hal yang wajar, selama disampaikan dengan niat memperbaiki dan tetap menjaga persatuan. Keduanya sepakat bahwa NU harus tetap menjadi pilar utama Islam rahmatan lil alamin yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, menjaga keutuhan bangsa, serta menjadi perekat kebhinekaan Indonesia.

 

Percakapan itu pun diakhiri dengan ajakan agar seluruh warga Nahdliyin tetap menjaga ketenangan, mengedepankan musyawarah, serta memperkuat kontribusi NU dalam membangun masyarakat dan negara di tengah berbagai tantangan zaman.

 

 

Redaksi MataElang24.com

(AM-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *