Sidoarjo – MataElang24.com, Tragedi memilukan menimpa salah satu pesantren di Jawa Timur yang sudah terbukti banyak melahirkan ulama-ulama besar di Nusantara, Pondok Pesantren Al-Khoziny, yang beralamat di Jl. KH. Abdul Karim No. 27, Kelurahan Tlasih, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Bangunan musala bertingkat di kompleks pesantren tersebut ambruk saat proses pengecoran lantai atas, menimbulkan puluhan korban jiwa dan luka-luka.
Menanggapi musibah ini, Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Cak Rofi’, menyerukan gerakan donasi Rp 5 ribu per orang untuk membantu proses pemulihan dan pembangunan kembali pesantren. Ajakan ini, kata Cak Rofi’, ditujukan khusus bagi para alumnus Al-Khoziny serta umumnya bagi umat Islam, khususnya Nahdliyyin di seluruh Indonesia.
“Saya sarankan cukup Rp 5 ribu saja per orang. Jangan lihat kecilnya nilai, tapi lihat besarnya kebersamaan dan keberkahan. Kalau semua ikut, insyaallah pesantren tua ini bisa bangkit kembali,” ujar Cak Rofi’, Kamis (17/10/2025).
Sebagai bentuk nyata, Cak Rofi’ menyatakan akan berdonasi Rp 5 juta dari uang pribadinya. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk pamer, melainkan sebagai contoh dan dorongan moral agar masyarakat ikut membantu.
“Ini bukan soal siapa yang paling banyak memberi, tapi siapa yang paling peduli. Saya hanya ingin menggerakkan semangat gotong royong umat. Jangan hanya menunggu bantuan dari APBN yang harus disetujui Kementerian PUPR. Pesantren adalah warisan ilmu dan perjuangan ulama, tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Fakta di Lapangan: Bukan Faktor Usia Bangunan
Dari hasil investigasi dan laporan sejumlah media nasional, runtuhnya bangunan musala Al-Khoziny bukan disebabkan oleh faktor usia, melainkan kelemahan struktur dan kesalahan teknis konstruksi.
Menurut keterangan KH. Abdussalam Mujib, pengasuh pondok, bangunan tersebut sedang dalam tahap pengecoran akhir lantai atas saat kejadian terjadi.
Beberapa santri menyebut proses pengecoran dilakukan secara penuh (full pour) tanpa bertahap, sehingga beban berat langsung menekan struktur di bawahnya.
Ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bahkan menyebut kejadian itu sebagai “gagal struktur total”, di mana seluruh elemen beton—kolom, balok, dan plat lantai—runtuh secara bersamaan (pancake collapse).
Selain itu, warga sekitar mengaku sudah memperingatkan bahwa bangunan tampak rapuh dan tidak stabil, namun belum sempat dilakukan evaluasi teknis lebih lanjut. Polda Jawa Timur kini telah memulai penyidikan resmi untuk menelusuri kemungkinan adanya unsur kelalaian atau kesalahan dalam pembangunan.
KH. Abdussalam Mujib: Kiai Sepuh yang Tawadhu’
Pondok Pesantren Al-Khoziny dikenal luas sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang sudah berdiri ± 100 tahunan. Yang sekarang Di bawah asuhan KH. Abdussalam Mujib, pesantren ini tetap istiqamah mencetak santri yang berakhlak dan berilmu, meski dengan sarana yang terbatas.
“Beliau adalah kiai sepuh yang sangat tawadhu’. Kita yang muda ini punya kewajiban moral untuk membantu beliau dan para santrinya,” ungkap Cak Rofi’.
Solidaritas diharapkan segera Tumbuh
Seruan Cak Rofi’ diharapkan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, terutama para alumni dan simpatisan pesantren. Gerakan “Donasi Rp 5 Ribu Peduli Al-Khoziny” semoga segera tersebar di media sosial dan komunitas warga Nahdliyyin.
“Ayo Galang Shodaqoh Rp.5000 Untuk Membangun Kembali Ponpes Al Khoziny Yang Ambruk ,Bismillahirrahmanirrahim Ora Usah Nunggu APBN ( Salam Hormat Al Faqir Ketua Umum BKN )
“Gerakan kecil dengan niat besar akan membawa keberkahan besar. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk membantu pesantren ini bangkit kembali,” tutup Cak Rofi’.
(AM-02)












