BANTEN — MataElang24.com, Dalam sesi kajian yang disiarkan secara langsung melalui TikTok, Kiyai Alwiyan Qasid Syam’un menyampaikan penjelasan mendalam mengenai hubungan antara ilmu, amal, dan ikhlas. Menurutnya, secara etimologis ilmu berarti pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan layak disebut ilmu. Suatu pengetahuan baru dapat disebut ilmu jika memiliki sistematika, universalitas, dan metodologi yang jelas.
Dalam perspektif Islam, Kiyai Alwiyan menjelaskan bahwa ilmu adalah tuntunan, amal atau ibadah adalah tuntutan, ikhlas merupakan landasan, dan Allah adalah tujuan. Amal salih menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam dialog bersama host Ahmad Mujib (@ahmadmujib270), beliau memaparkan tiga pendekatan epistemologi penting dalam tradisi Islam. Pertama, pendekatan bayani yang bersumber dari nash atau wahyu. Kedua, pendekatan burhani yang bersifat rasional dan berbasis bukti. Ketiga, pendekatan irfani yang bersifat spiritual dan intuitif. Ketiga pendekatan ini harus berjalan seimbang. Jika bayani tanpa burhani akan menjadi kaku. Burhani tanpa bayani akan cenderung sekular. Sementara irfani tanpa keduanya rawan melenceng.
Kiyai Alwiyan kemudian mengibaratkan dua ayat penting sebagai “pasal utama” dalam kehidupan spiritual. QS Adz-Dzariyat ayat 56 sebagai pasal pertama yang menegaskan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah. QS Al-Bayyinah ayat 5 sebagai pasal kedua yang menekankan keikhlasan dalam beribadah. “Jika lupa pasal pertama, kembalilah ke pasal kedua. Jika lupa pasal kedua, kembalilah ke pasal pertama. Hamba kok protes,” ujarnya dengan gaya khas.
Hadir pula Kiyai Syarifudin (@walitiktok) yang menambahkan pandangan mengenai ciri ulama yang benar. Menurutnya, ulama yang istiqamah seperti Kiyai Alwiyan justru sering mendapat kritik atau hujatan di wilayah tempat mereka berdakwah. Namun, mereka dihormati dan dicari ilmunya oleh orang dari luar daerah. Hal ini terjadi karena kebenaran seringkali menyinggung kepentingan tertentu di lingkungan setempat. “Ulama yang benar biasanya lebih dikenal di luar kampungnya. Tetapi yang paling penting adalah konsistensi dalam kebenaran, bukan popularitas,” tegasnya.
Dialog antara kedua kiyai dan host berlangsung interaktif dan berjalan hangat. Kajian ini mendapat respons positif karena mampu menyampaikan konsep-konsep teologis yang berat dalam bahasa yang mudah dipahami serta relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Redaksi MataElang24.com
(AM-02)












