Daerah  

Maksiat dan bencana alam

 

Oleh : @Alwiyan Rakjat Biasa

BANTENMataElang24.com, Allah menciptakan sunnatullah dan telah menentukan semua takdir mahlukNya sejak 50 ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakannya. Sunnatullah adalah hukum hukum atau mekanisme alam yang diciptakan oleh Allah yang berfungsi mengatur keteraturan alam, seperti aksi reaksi, tolak belakang, tarik menarik, siang dan malam, pria dan wanita, timur barat dan utara selatan, causalitas (sebab akibat), kesimbangan dll.

 

Ketika sunnatullah di intervensi oleh aksi manusia maka alam mereaksi kembali dengan sunnatullah atau hukum alam yang didalamnya adalah causalitas (sebab akibat). Misalnya hutan yang digunduli atau gunung yang di keruk oleh manusia maka alam mereaksi dengan longsor ketika musim hujan tiba. Penggundulan hutan, kurangnya resapan air dan pembuangan sampah di sungai menjadi sebab yang mengakibatkan banjir dan longsor. Walau demikian, bencana alam tidak ada kaitannya dengan kemaksiatan kekafiran manusia yang tidak ada kaitannya dengan merusak alam, adapun kemaksiatan yang tidak ada kaitannya dengan merusak alam hanya akan berdampak pada *”bencana sosial”*.

 

Pertanyaannya, bagaimana kasusnya dengan kaum yang maksiat kepada Allah dan RosulNya seperti kaum Nabi Luth, Kaum Nuh, Kaum Ad, Kaum Tsamud, Fir’aun dan kaum kaum lainnya di dalam Alqur’an yang di azab oleh Allah dengan bencana alam ?.. Mereka adalah kaum yang diadzab Allah sebelum diturunkannya Taurat kepada Nabi Musa AS, setelah diturunkan Taurat, Allah tidak menghukum suatu kaum dengan adzab di bumi maupun dari langit dengan bencana alam, sebagaimana firman Allah :

 

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِ مَاۤ اَهْلَكْنَا الْقُرُوْنَ الْاُ وْلٰى بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

 

“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk serta rahmat, agar mereka mendapat pelajaran.”

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 43)

 

Walau demikian, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dan berilmu untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada setiap wujud kemaksiatan demi tegaknya kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Sebagaiman Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya :

 

وَقَوْلُهُ: ﴿مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الأولَى﴾ يَعْنِي: أَنَّهُ بَعْدَ إِنْزَالِ التَّوْرَاةِ لَمْ يُعَذِّبْ أُمَّةً بِعَامَّةٍ، بَلْ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يُقَاتِلُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

ثُمَّ رَوَاهُ عَنْ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنْ عوف، عن أبي نضرة، عن أبي سعيد -رَفَعَهُ(٤) إِلَى النَّبِيِّ ﷺ -قَالَ:”مَا أهلكَ اللَّهُ قَوْمًا بِعَذَابٍ مِنَ السَّمَاءِ وَلَا مِنَ الْأَرْضِ إِلَّا قَبْلَ مُوسَى”، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الأولَى﴾

 

Ummat Nabi Muhammad Saw pun tidak di adzab oleh Allah, sebagaimana firman Allah :

 

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

 

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 33)

 

 

Pada akhirnya, kita harus meyakini bahwa semua musibah ataupun nikmat, telah Allah tuliskan ketetapannya di Lauhul Mahfudz sebelum semuanya terjadi, sebagaimana Allah berfirman :

 

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

 

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”

(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)

 

Semoga saja, kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran ketika mendapatkan musibah dan senantiasa bersyukur atas rahmat dan nikmatNya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, semoga Allah mengampuni setiap permohonan maaf kita. Aamiin.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ

 

“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)

 

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *